Wujud Rasa Syukur, Warga Dusun Kalitengah Gelar Sadranan

0 139

Menjaga dan melestarikan alam serta lingkungan, menjadi salah satu tujuan dari digelarnya tradisi Sadaranan di Dusun Kalitengah Desa/Kecamatan Pringsurat Jumat.

Selain tujuan tersebut, Sadranan yang digelar pada bulan Sapar (Kalender Jawa) ini, sudah menjadi agenda rutin tahunan, warga sangat percaya jika tradisi yang sudah digelar sejak ratusan tahun silam ini tidak dilakukan maka akan menimbulkan marabahaya. “Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang kami, secara turun temurun masyarakat tidak berani meninggalkan tradisi ini,” ungkap Sujarwo salah satu sesepuh desa setempat Jumat kemarin.

Ia mengatakan, sebelum prosesi Sadranan dilakukan, masyarakat secara bersama-sama membersihkan makam dan lingkungan desa, selain itu juga merawat mata air yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. “Sebenarnya tidak hanya saat menjelang Sadranan saja, merawat makam, merawat sumber mata air dan lingkungan wajib dilakukan masyarakat. Dengan demikian alam akan selalu berpihak pada kita,” katanya.

Menurutnya, tradisi ini juga dilakukan sebagai salah satu ungkapan rasa syukur warga terhadap rahmat dan hidayah dari sang pencipta atas hasil bumi yang melimpah, mata air yang tak pernah surut dan alam yang sangat subur. “Rasa syukur kami tak terhingga, setiap hari sudah kami ungkapkan saat melakukan ibadah. Tradisi ini hanya sebagai ungkapan syukur saja bukan ada maksud lainnya,” katanya.

Sementara itu Yuyun Budi Kepala Desa setempat menuturkan, tradisi Sadranan ini memang sudah mendarah daging bagi masyarakat. Tradisi ini wajib digelar setahun sekali yakni pada bulan Sapar di hari Jumat. “Ini merupakan agenda rutin, tanpa dikomando setiap bulan Sapar warga pasti mengelar tradisi ini,” ujarnya.

Oleh karena itu katanya, pihaknya berencana akan menjadikan tradisi ini sebagai salah satu daya tarik wisata, sehingga kedepan dunia pariwisata di desanya bisa semakin berkembang. “Selain tradisi ini kami, banyak potensi wisata lainnya didesa kami,” katanya.

Ritual Sadranan sendiri dilakukan makam keramat kyai waneh dan nyai waneh serta kyai wangi dan nyai wangi, warga membawa tenongan yang berisi lauk pauk dan jajanan pasar, tumpeng nasi putih dan ingkung ayam kampung.

Dengan dipimpin oleh sesepuh desa, mereka memanjatkan doa-doa yang ditujukan kepada sang pencipta. Usai berdoa/ warga melakukan makan bersama, mereka juga saling tukar menukar isi tenongan. “Tukar menukar makanan ini sebagai salah satu tradisi yang unik, masyarakat percaya dengan menukar makanan yang dibawa akan diberi kelancaran rejeki, kebersamaan, kerukunan dan kekeluargaan,” terang Yuyun.

Source https://radarpekalongan.co.id https://radarpekalongan.co.id/3722/wujud-rasa-syukur-warga-dusun-kalitengah-gelar-sadranan/
Comments
Loading...