Wayang Tutus

0 121

Wayang Tutus

Wayang tutus tak jauh beda dengan wayang kulit. Baik dari segi tokoh yang dibuat, cerita yang dimainkan, ukuran, maupun bentuk. Wayang tutus terbedakan dalam beberapa hal, antara lain bahan, ketahanan, serta model pementasannya. Namun secara umum, wayang tutus merupakan sisi lain kreativitas seniman tradisional dalam bentuk wayang. Atau dapat dikatakan, wayang tutus merupakan versi lain bentuk wayang Jawa.

Wayang tutus terbuat dari bambu (bahasa Jawa: pring) yang dibelah tipis-tipis (tutus). Di pedesaan Jawa, tutus biasa digunakan para petani untuk mengikat padi mereka setelah panen, atau untuk mengikat bambu atau kayu yang akan dibawa pulang. Oleh karena wujudnya yang tipis, tutus rentan patah. Selain itu, bambu juga rentan oleh kutu, sehingga mudah keropos.

Wayang tutus termasuk seni tradisi lisan. Wayang tutus dipentaskan oleh seorang diri sang dalang. Musik pengiring berasal suara mulut sang dalang. Pergantian antar-babak dalam cerita ditandai dengan ketokan kayu. Wayang tutus praktis menghadirkan pesan dalam cerita yang ditampilkan. Penonton didorong untuk memahami pesan dalam cerita. Oleh karena itu, wayang tutus menuntut keahlian sang dalang dalam bercerita.

Dalam pementasannya, wayang tutus biasa mengetengahkan cerita-cerita rakyat, semisal legenda atau dongeng. Sebagai contoh adalah cerita Gendowor; Martoloyo Martopuro. Sebuah kisah tentang seorang abdi dalam pemerintahan Tegal pertama. Pementasan wayang tutus juga tidak membutuhkan waktu lama seperti wayang kulit. Wayang tutus cukup disampaikan selama kurang lebih 1-2 jam, dengan cerita yang lebih singkat. Tokoh dalam wayang tutus juga tidak sebanyak dalam wayang kulit. Jumlahnya wayang tutus sekitar 20 buah dengan gunungan. Meskipun demikian, menurut Pak Kasirun, wayang tutus juga dapat dibuat lebih banyak sesuai kebutuhan.

Source https://infotegal.com https://infotegal.com/2014/05/pentas-wayang-tutus/
Comments
Loading...