‘Wayang Klithik” Kesenian Sleman Yang Semakin Punah

0 58
Sejarah Wayang Klithik

Wayang klithik adalah salah satu jenis dari wayang kayu, wayang klithik diciptakan oleh Pangeran Pekik, adipati Surabaya, terbuat dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga biasa disebut wayang krucil. Setelah muncul wayang menak yang terbuat dari kayu, Sunan Pakubuwana II kemudian menciptakan wayang klithik yang terbuat dari kayu pipih. Tangan wayang terbuat dari kulit yang di tatah. Wayang krucil memiliki gagang yang terbuat dari kayu. Bunyi “klithik-klithik” apabila saat dipentaskan, diayakini sebagai asal mula penyebutan wayang klithik.

Di Jawa Tengah wayang klithik memiliki bentuk yang mirip dengan wayang gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas). Di Jawa Timur tokoh-tokohnya banyak yang menyerupai wayang purwa, raja-rajanya bermahkota dan memakai praba. Di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya bergelung Keing atau Garuda Mungkur saja. Repertoar cerita wayang klitik juga berbeda dengan wayang kulit. Di mana repertoar cerita wayang kulit diambil dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata, repertoar cerita wayang klitik diambil dari siklus cerita Panji dan Damarwulan.

Cerita yang dipakai dalam wayang klithik umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Namun, tidak menutup kemungkinan wayang krucil memakai cerita wayang purwa dan wayang menak, bahkan dari Babad Tanah Jawi sekalipun. Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Ada kalanya wayang klithik menggunakan gending-gending besar. Tokoh-tokoh wayang Klithik/Krucil yakni, Damarwulan, Menakjingga, Layangseta, Layang Kumitir, Patih Logender, Prabu Kencanawungu, Patih Udara, Wahita, Puyengan, Adipati Sindura, Menak Koncar, Ranggalawe, Buntaran, Watangan, Anjasmara, Banuwati, Panjaliwung, Sabdapalon Nayagenggong Jaka Sesuruh, Prabu Bwawijaya dsb.

Wayang Klithik Era 1970

Hingga tahun 1970 pementasan wayang klithik bukan merupakan barang langka yang ada di DIY, terutama di wilayah perabatasan kabupaten Sleman, DIY dengan kabupaten Klaten Jawa Tengah. Hampir setiap ada perhelatan acara, seperti upacara khitanan, pengantin pentas wayang ini selalu digelar. Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan wayang klithik hampir punah dan terpinggirkan, sehingga jumlah dalang wayang klithik semakin berkurang.

Source 'Wayang Klithik" Kesenian Sleman Yang Semakin Punah 'Wayang Klithik" Kesenian Sleman Yang Semakin Punah 'Wayang Klithik" Kesenian Sleman Yang Semakin Punah

Leave A Reply

Your email address will not be published.