Wayang Golek Cepak Kesenian Cirebon

0 121

Wayang Cepak atau wayang papak merupakan jenis kesenian wayang yang berkembang di wilayah Cirebon dan sekitarnya, bentuk wayang Cepak hampir mirip dengan wayang Golek dari budaya Sunda namun memiliki bentuk mahkota kepala (bahasa Cirebon : sirah-sirahan) yang rata (bahasa Cirebon : cepak), dari bentuk mahkota kepala itulah wayang ini mendapatkan namanya.

James Redmond dalam bukunya Themes in Drama : Volume 8, Historical Drama terbitan tahun 1986 menjelaskan bahwa kesenian wayang Cepak ini berkembang di sekitar pantai utara pulau Jawa dari Cirebon hingga Pekalongan. Cerita-cerita yang dipentaskan biasanya terpusat pada tiga hal, pertama, cerita-cerita muslim dari Arab karangan Amir Hamzah, kedua, cerita-cerita dari masa kerajaan Hindu, seperti cerita Panji yang merupakan seorang pangeran dari sekitar tahun 1045 – 1222 dan yang ketiga adalah cerita-cerita lokal yang biasanya bersumber dari babad.

Sejarah Wayang Golek Cepak

James Brandon dan Martin Banham dalam bukunya The Cambridge Guide to Asian Theatre menjelaskan bahwa pada tahun 1553 Sunan Giri membuat sebuah wayang yang bentuknya seperti boneka tangan dari kayu. Wayang tersebut ditujukan agar dapat digelar sebagai dakwah Islam pada waktu siang hari dikarenakan wayang kulit yang merupakan seni pertunjukan bayangan pada masa tersebut hanya dapat digelar pada saat malam hari. Pada sekitar tahun 1583 – 1584, Sunan Kudus kemudian melakukan inovasi pada wayang kayu buatan Sunan Giri, hasil inovasi inilah yang kemudian populer di wilayah pantai utara pulau Jawa. Daerah yang pertama kali dimasuki kesenian wayang baru ini adalah Cirebon dengan menampilkan kisah-kisah Menak (bahasa Indonesia : bangsawan) yang memiliki nama-nama seperti Amir, Amir Mukminin, Jaya Dimuri, Jayang Jurit, Jayeng Laga, Jayeng Satru serta lainnya, wayang tersebut kemudian dikenal dengan nama wayang cepak.

Alat musik dan nayaga Wayang Cepak

Para nayaga (bahasa Indonesia : pemain gamelan) yang mengiringi pagelaran wayang Cepak Cirebon biasanya terdiri atas para penabuh yang susunannya tidak jauh berbeda dari nayaga pada pagelaran wayang Kulit Cirebon. Para nayaga tersebut terdiri atas para penabuh :

  • Saron 2 pangkon
  • Penerus (demung)
  • Bonang (kromong)
  • Kemyang (bonang penerus)
  • Gambang
  • Kenong-jengglong
  • Kendang
  • Beri (simbal)
  • Suling
  • Titil/peking
  • Kebluk (kempyang)
  • Kemanak
  • Klenang
  • Kiwul-gong
  • Sabet-gong.
  • Bedug
  • Keprak (kecrek)

Lakon Wayang Cepak

Lakon atau cerita yang dipergelarkan dalam Wayang Golek Cepak tidak sama dengan lakon yang bisas disajikan dalam Wayang golek purwa maupun wayang kulit purwa gaya Cirebon. Jika pada wayang purwa lakon yang disajikan bersumber dari cerita Mahabarata dan Ramayana, maka repertoar lakon pada Wayang Golek Cepak bersumber dari Cerita Menak, Legenda, epos panji, Kerajaan, dan cerita wali ( babad).  Repertoar cerita Menak meliputi; Umar Maya Umar Madi, Amir Ing Srandil, Amir Ing Al Karib, Amir Ing Mendayin, Ahmad Muhammad, Durahman-Durahim, Jayeng Murti, Repatmaja Imam Suwangsa, Lokayanti raja Nuryatin, Sayidina Ali Perang Lahad dan lain-lain.  Dalam Epos Panji ceritanya; Panji Kudawanengpati, Panji Gagak Pernala, Jaransari-Jaranpurnama, Panji Sutra, Panji Tumang, Panji Asmara bangun, Panji Wulung, Panji Kasmaran dan lain-lain. Cerita Legenda; biasanya bersumber dari legenda daerah, seperti Ciungwanara, Sangkuriang, Walangsungsang, Rarasantang dan lain-lain.  Secara trdisi repertoar lakon tersebut dalam dunia pedalangan Cirebonan dibedakan menjadi 5 bentuk yaitu:

  1. Lakon galur. Adalah bentuk lakon atau cerita yang berpatokan pada epos Ramayana dan Mahabarata atau cerita yang bersumber dari sejarah. Contoh bentuk lakon ini bisa ditemukan pada lakon “Konteya Merad” yang menghubungkan kisah pada masa Mahabarata dengan cerita Babad.
  2. Lakon Babad. Adalah bentuk cerita yang hidup dan berkembang dimasyarakat yang mengisahkan kejadian atau peristiwa tertentu yang bersumber dari catatan sejarah tempo dulu yang dirangkum dalam bentuk buku atau kitab kuno seperti: Kitab Rantai, Kitab, Kawedar, Kitab Lugu dan Kitab Peteng.
  3. Lakon Menak. Seperti telah dikatakan di atas bentuk lakon ini bersumber dari cerita yang terdapat di Timur Tengah. Sebagain dalang Wayang Cepak bentuk cerita ini masuk dalam katagori bentuk cerita galur.
  4. Lakon Panji. Adalah sebuah cerita yang sudah melegenda tidak hanya di Jawa tapi juga dibeberapa tempat lain, seperti Lombok, Sumatra, bahkan hingga ke kawasan Asia seperti di Thailan. Lakon Panji mengisahkan tentang kehidupan sosok Panji yang memiliki latarbelakang kerajaan kahuripan, dan Jenggala di Jawa Timur.
  5. Lakon Perjuangan. Bentuk lakon ini bertemakan perjuangan atau tema kepahlawanan pada masa perjuangan. Adapun judul lakonnya Ki Bagus Rangin, Untung Surapati, dan lain-lain.
  6. Lakon Carangan. Adalah berupa lakon rekaan atau anggitan dari dalang yang dihubungkan dengan persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Struktur Pertunjukan Wayang Golek Cepak

Secara tradisi pola stuktur penyajian Wayang Golek Cepak memiliki kesamaan seperti halnya pada pertunjukan Wayang Kulit Paryourwa gaya Cirebon pada umumnya. Adapun struktur pertunjukannya :

  1. Talu ( pembukaan) biasanya pada bagian ini hanya menyajikan lagu-lagu gamelan secara instumentalia. Adapun materi lagunya terdiri lagu Bayeman, Kajongan, gending Rungu-rungu, Balo-balo dan lainsebagainya.
  2. Jejer adengan awal yang menggambarkan adegan keraton, atau di petapan diiringi dengan gending Kaboran. Pada bagian ini sering disebut murwa.
  3. Catur (Isi). Merupakan isi pokok dari cerita yang dipentaskan.
  4. Paseban atau kepatihan, adegan yang berisi tentang musyawarah.
  5. Perang. Unjuk kekuatan secara fisik biasanya terdapat pula yang menggunakan senjata.
  6. Babar/tutug (penutup). Akhir dari rangkaian pertunjukan biasanya dalang menyampaikan nasehat dan pesan terakhir dalam penutupan pergelarannya
Source Wayang Cepak Cirebon
Comments
Loading...