Warak Ngendhog Permainan Tradisional Semarang

0 32

Warak Ngendhog

Warak Ngendog adalah mainan anak-anak yang dulu sangat populer di kota Semarang dan sekitarnya, dan biasa dijual saat megengan atau pasar malam/dugderan menjelang bulan suci ini. Bentuk fisiknya adalah hewan berkaki empat dengan leher panjang, berbulu keriting (bisa juga lurus atau acak-acakan) dengan aneka warna khususnya merah, putih, kuning, hijau dengan sudut-sudut tubuh dan kepala yang lurus, dan kenapa disebut ngendog (bertelur), karena kadang ditaruh sebutir telur dibawah ekornya yang lurus atau disela-sela empat kakinya. Nah, disini muncul interpretasi eksistensi makhluk imajiner ini dengan keragaman penduduk kota Semarang pada khususnya. Nah, bentuk fisik warak ngendog ini ada yang digambarkan seperti kambing, kuda, kerbau, barongsai atau bahkan badan anjing. Sementara kepalanya ada yang menyerupai kepala kambing, naga jawa, naga cina, dan sebagainya. Sementara bulu-bulunya juga punya banyak versi… ada yang keriting, lurus, berombak ataupun bersisik.

Disebutkan dalam buku Programa Dugderan Masjid Besar Semarang (2004), bentuk fisik warak ngendog mewakili suku-suku yang hidup di Semarang. Ada unsur Jawa yang terwakili dalam postur warak yang mirip kambing, sementara unsur Cina ada pada kepalanya yang mirip dengan naga, sedangkan unsur Arab diwakili dengan bulu-bulu rambutnya yang keriting. Bentuk Warak Ngendog yang macam-macam ini juga menjadi salah satu persoalan bila disepakati sebagai ikon kota Semarang, karena bentuk visual Warak selayaknay mencerminkan karakter mayoritas warga Semarang asli. Dalam pandangan para perajin Warak dan warga asli Semarang umumnya, tubuh warak memiliki sudut-sudut yang lurus dan tegas sebagaimana watak orang Semarang yang suka blak-blakan dan apa adanya. Sudut tubuh dan kepala yang tidak meliuk-liuk, simetris dan paduan antara tubuh kuda, leher unta dan kepala naga dengan bulu keriting berwarna merah, biru, hijau dan kuning. Warak Ngendog ini seolah sudah jadi ikon kota Semarang, karena selain muncul saat pasar dugderan sebagai mainan anak-anak, juga ditampilkan dalam berbagai kesempatan khususnya perhelatan yang terkait dengan Semarang itu sendiri. Warak Ngendog sudah jadi pemandangan yang lazim, termasuk sebagai maskot kota.

Wah, sepertinya saya harus berburu Warak Ngendog jika pasar dugderan nanti, karena mainan ini hanya ada saat Ramadhan yang merupakan perpaduan 3 budaya yang hidup disini. Tradisi Semarang Warak Ngendhog adalah mainan khas Kota Semarang yang muncul sekali dan hanya hadir di perayaan tradisi Dugderan. Mainan ini berwujud makhluk rekaan yang merupakan gabungan beberapa binatang yang merupakan simbol persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang: Cina, Arab dan Jawa. Kepalanya menyerupai kepala naga (Cina), tubuhnya layaknya buraq (Arab), dan empat kakinya menyerupai kaki kambing (Jawa). Tidak jelas asal-usul Warak Ngendog. Binatang rekaan ini hanyalah mainan dalam bentuk patung atau boneka celengan yang terbuat dari gerabah. Siapa yang menginspirasi pembuatannya pun tak ada yang tahu. Yang pasti sejak dugderan digelar, sejumlah pedagang menggelar mainan ini. Dalam setiap penjualan, penjual menaruh telur ayam matang di bawahnya. Telur itu turut serta dijual bersama waraknya.

Warak ngendog aslinya memang hanya berupa mainan anak-anak dengan wujud menyerupai hewan. Jika dibandingkan dengan bentuk Warak Ngendog yang ada sekarang ini, Warak Ngendog yang asli terbuat dari gabus tanaman mangrove dan bentuk sudutnya yang lurus. Konon ciri khas bentuk yang lurus dari Warak Ngendog ini mengandung arti filosofis mendalam. Dipercayai bentuk lurus itu menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara apa adanya. Tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan.

Selain itu Warak Ngendog juga mewakili akulturasi budaya dari keragaman etnis yang ada di Kota Semarang. Kata WARAK sendiri berasal dari bahasa arab “Wara’I” yang berarti suci. Dan Ngendog(bertelur) disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendog bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari lebaran. Warak Ngendog bagi Kota Semarang sudah menjadi ikon identitas kota dan sudah dikenal hingga keluar daerah. Beberapa titik di pusat kota, bahkan direncanakan akan dibangun patung Warak Ngendog sebagai maskot penegas ciri khas kota Semarang.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Warak-Ngendhog-1/
Comments
Loading...