Warak Ngedog Semarang

0 81

Warak Ngedog

Kata Warak Ngendog terdiri dari dua kata yang berasal dari dua bahasa. Kata pertama, Warak merupakan turunan dari kata Wara’I yang dalam bahasa Arab berarti suci. Kata kedua, Ngendog berasal dari bahasa Jawa yang berarti bertelur. Sehingga, Warak Ngendog memiliki arti menelurkan (melahirkan) kebaikan / kesucian. Warak Ngendog adalah salah satu tradisi khas Kota Semarang yang bisa berupa mainan ataupun berupa pajangan (pameran). Tradisi khas Kota Semarang ini haya muncul sekali, yaitu saat perayaan tradisi Dugderan. Warak Ngendog biasa dibuat dalam bentuk boneka dengan ukuran yang bervariasi dan biasanya di bawah boneka tersebut diletakan telur ayam yang sudah direbus sehingga orang – orang yang menginginkannya bisa membeli dan bisa langsung disantap.

Warak Ngendog yang berukuran kecil biasa dijadikan mainan anak – anak sedangkan Warak Ngendog yang berukuran besar dijadikan pajangan / pameran saat bulan Ramadhan datang dan acara Dugderan tiba dengan meriahnya. Warak Ngendog ini berbentuk mahluk rekaan yang merupakan gabungan dari 3 hewan, yaitu naga, buraq, dan kambing. Gabungan dari ketiga hewan ini merupakan simbol persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang, yakni Cina, Arab, dan Jawa. Hewan ini memiliki kepala naga yang melambangkan etnis Cina, tubuh seperti buraq yang melambangkan etnis Arab, dan kaki kambing yang melambangkan etnis Jawa.

Makna Warak Ngendog memiliki nilai – nilai filosofi yang sangat dalam. Kepala Warak yang memiliki mulut yang menganga merupakan simbol tentang hawa nafsu manusia yang cenderung serakah, yang bisa merusak dunia. Badan Warak yang tegak memiliki makna perjuangan manusia yang keras dalam rangka melawan hawa nafsu yang merusak. Bulu Warak yang berwarna – warni dengan warna yang berbeda di bagian perutnya mempunyai makna manusia harus bisa berpuasa sungguh – sungguh melawan hawa nafsu, dalam bahasa Jawa disebut prihatin perutnya dikenditi. Bulu Warak berbalik / pithik walik dalam bahasa Jawanya, memiliki makna bahwa menjelang bulan Ramadhan, manusia harus bisa berbalik dari urusan keduniaan ke urusan keakhiratan.

Warak Ngendog ini dijadikan lambang Kota Semarang karena dipercayai sebagai hewan mitos yang sakti. Hewan yang tubuhnya tersusun atas bagian tubuh 3 hewan lainnya ini dipercayai hidup dan melindungi Kota Semarang dengan kekuatannya. Warak Ngendog sebagai simbol persatuan diharapkan dapat mencegah perpecahan antar etnis terjadi di Semarang. Hadirnya Warak Ngendog di tengah masyarakat juga diharapkan dapart menyadarkan masyarakat kalau perbedaan bukanlah suatu halangan untuk saling bersatu.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Warak-Ngedog-Tradisi-Khas-Semarang-Jawa-Tengah-2/
Comments
Loading...