Waktu Pelaksanaan Upacara Jembul Tulakan

0 243

Waktu pelaksanaan sedekah bumi Pejing tidak boleh bersamaan dengan sedekah bumi Tulakan. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu dilaksanakannya sedekah bumi Tulakan, masyarakat Pejing masih bisa mendatangi. Adapun pembagian waktunya, sedekah bumi Tulakan dilakukan pada hari Senin Pahing maka sedekah bumi Pejing dilakukan seminggu kemudian yaitu Senin Wage. Syarat utama lainnya adalah tidak adanya jembul dalam rangkaian upacara, adapun keramaian yang diperbolehkannya Tayub. Berbagai persyaratan telah disetujui oleh Mbah Cabuk dan kembalilah dia ke Pejing untuk melakukan sedekah bumi sendiri.

Tradisi Jembul Tulakan dilaksanakan setiap bulan Apit (Dzulqo’dah) tepatnya pada hari Senin sesudah upacara pada malam Jumat Wage di Desa Sonder, hal ini disesuaikan dengan cerita Ratu Kalinyamat di Desa Sonder pada waktu malam Jumat Wage. Kemudian pada hari Senin Pahing para Nayoko Projo (para pembesar negeri) menghadap Ratu dengan membawa Hulu Bekti glondong pangareng-areng (penghormatan dengan membawa kebutuhan dan perlengkapan sang Ratu).

Perlambangan jembul-jembul yang jumlahnya empat dimaksudkan sebagai perwakilan dukuh-dukuh yang ada pada waktu itu dan menghadapnya para Nayoko Projo untuk mengantarkan hulu bekti. Prosesi upacara yang menggambarkan penyembahan jembul-jembul oleh tledek (penari Tayub wanita) mempunyai arti bahwa menurut cerita masa lalu pada waktu sang nayoko menghadap sang ratu mendapat penghormatan dari dayang-dayang atau pendamping. Tarian tayub sendiri sebagai bentuk penghormatan para nayoko yang diwujudkan dengan jembul-jembul.

Source https://id.wikipedia.org/wiki/Jembul_Tulakan id.wikipedia.org
Comments
Loading...