Urutan Pertunjukan Besutan Jombang

0 368

Urutan Pertunjukan Besutan Jombang

Urutan pertunjukan yang dimaksudkan adalah urutan pertunjukan Besutan dari awal sampai sekarang, dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan dan perkembangan sampai bentuk aslinya tidak nampak lagi. Di bawah ini akan diuraikan urutan jalanya pertunjukan Besutan sampai sebutan Besutan diganti dengan sebutan Ludruk.

Pertunjukan Besutan pada Periode Awal

Sebelum Besut memasuki arena, di tengah pentas ada obor yang belum di nyalakan. Gendhing kalongan berbunyi, tanda dimulainya pertunjukan. Pertunjukan dimulai dengan keluarnya seseorang untuk menyalakan obor. Setelah menyala, obor dibawa ke tempat akan keluarnya Besut. Besut keluar dengan mata terpejam dan mulutnya disumbat dengan tembakau (Bahasa Jawa Susur), tidak dengan berjalan tetapi dengan ngesot (berjalan dengan duduk,kedua tangan sebagai penyangga). Di depanya disinari nyala obor yang dibawa pembawanya tadi. Jlanya menuju empat arah mata angin, di awali dengan dengan ke tuan rumah dan menyembah. Berjalan lagi ke kiri searah dengan jarum jam (45 derajat), lalu menyembah, berjalan lagi empat puluh lima derajat dan menyembah lagi, sampai kembali lagi ke tengah menghadap penonton dalam arti membelakangi yang punya hajad. Ketika menyembah, tangan kanan dan kiri perlahan-lahan merentang (“sendaplang”), lalu ditarik ke muka, semua jari membuka,  dan menyembah.

Sampai di tengah, obor diletakkan di depan Besut masih dalam keadaan menyala lalu ditinggalkan. Gendhing kalongan masuk irama dua, tanda Besut mulai menari. Tarian selesai, iringan berhenti, lalu obor dimatikan oleh pembawanya tadi. Besut mulai membuka mata perlahan-lahan dan kemudian penyumbat mulutnya di buang, di lanjutkan kidungan bersaut-sautan dengan pengrawit, kidungan selesai dan dilanjutkan dialog dengan paman Ganda, Rusmini, sesuai dengan cerita. Pada periode awal, Besutan selalu menggunakan cerita yang teap (hanya satu cerita), yaitu masalah Besut mencari pekerjaan ke Surabaya. Setelah cerita yang diwujudkan lewat dialog selesai, berarti selesai pula rangkaian pertunjukan Besutan.

Besutan dari Perkembangan Sampai Musnah Sama Sekali

Yang menjadi pelaku Besut, dianggap sebagai pemimipin. Tokoh ini sebelumnya disebut Lerok, karena bedaknya yang putih tebal dan tidak rata, sama artinya dengan Lorek. Pendapat ini diperkuat oleh Henricus Supriyanto dalam penelitianya yang mengungkapkan kata Lerok itu dari kata Lorek. Kemudian Besut lebih lanjut disebut Ludruk. Ludruk yang dimaksudkan adalah bukan bentuk teater yang berkembang saat ini, tetapi sebutan tokoh dalam pertunjukan Besutan.

Perkembangan Besutan semakin maju dengan pesat, dikarenakan ada permintaan dari penanggap supaya pertunjukan Besutan berakhir pada dini hari. Maka pihak pemain berusaha menambah bentuk permainanya untuk mengisi waktu yang telah disediakan. Tambahan pertunjukan tersebut adalah:

  1. Ngremo putra
  2. Cumplingan atau lawakan
  3. Cerita yang dipentaskan pukul 24.00 sampai dengan pukul 01.30, mengisahkan Besut dalam mencari pekerjaan
  4. Tambahan cerita lain, berakhir sampai pagi. Tambahan cerita tersebut antara lain, Besut kawin lagi, Besut jadi Mantri, Besut tergoda dan lain sebagainya

Perkembangan selanjutnya adalah penambahan cerita yang tidak lagi mengisahkan Besut, Rusmini, dan Ganda, tetapi menampilkan tokoh lain. Tokoh lain semakin menarik dan disukai masyarakat, menimbulkan cerita Besutan hilang sama sekali. Karena gerakan Besut kepalanya “gela-gelo” dan kaki kanan dihentakkan (Bahasa Jawa Gedruk-Gedruk) maka muncul istilah Ludruk. Kini Ludruk nerkembang pesat, akhirnya istilah Ludruk bukan sebagai salah satu tokoh, tetapi merupakan bentuk teater rakyat yang berkembang di Jombang, Mojokerto, Surabaya, Malang dan daerah Jawa Timur lainya.

Besutan pada Periodesasi 1972 Sampai dengan 1991.
Merupakan periode yang kembali kebentuk awal dari Besutan. Jadi tidak ada ngremo,lawakan, maupun tambahan cerita yang menyimpang dari Besutan. Lawakan tetap ada karena merupakan bagian dari serangkaian Besutan yang diwujudkan lewat dialog, Juga gerakan Besutan yang bertipe gecul. Secara rinci teruraikan sebagai berikut :

a.    Gendhing Kalongan (Bahasa Jawa).
Besut memasuki arena pertunjukan tidal lagi dengan duduk, tetapi berjalan maju mengikuti pembawa obor. Mulutnya tersumbat susur dan kedua matanya terpejam. Langkahnya sesuai dengan pemukulan gamelan, pada hitungan ketiga gong terakhir obor di lempar dan sekaligus susur yang ada di mulutnya di semburkan. Di lanjutkan gerakan tari “Gejuk” menuju ke tengah arena. Sampai di tengah, duduk sila dan sembahan. Sembahan selesai, lalu berdiri, di lanjutkan menari dengan ragam gerak yang tersusun.
b.    Tanpa Gendhing.
Selesai menari, mata Besut mulai dibuka, kain putih diturunkan dengan tujuan memperlihatkan dada, dan mulai bersuara “Uhu..Uhu…”. Pengrawit mulai memukul nada-nada tertentu, dengan tujuan Besut dapat menyesuaikan suaranya dengan nada yang ada dalam gamelan. Setelah tahu nadanya, dilanjutkan dengan kidungan pambuka, saling menyaut antara besut dengan pengrawit, dan kidungan pos sebagai akan di mulainya gendhing Jula-Juli.

Source Urutan Pertunjukan Besutan Jombang Josstoday.com
Comments
Loading...