Upacara Unan Unan di Suku Tengger

0 71

Upacara Unan Unan di Suku Tengger

Suku Tengger di Jawa Timur dikenal masih memegang teguh nilai-nilai luhur yang dianutnya sesuai hukum adat. Hukum adat masyarakat Tengger, meski tidak tertulis, namun sangat dipercaya dan dijalankan dengan patuh oleh mereka. Salah satu desa Suku Tengger yang berada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, adalah Desa Ngadas. Desa yang berada di ketinggian sekitar 2.100 mdpl ini ditempati oleh sekitar 1.800 penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayur. Secara administratif, desa ini masuk wilayah Kecamatan Poncokusumo.

Selain di Kabupaten Malang, desa-desa Suku Tengger tersebar di wilayah Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Jumlahnya mencapai belasan desa dan berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Suku Tengger sudah menempati kawasan tersebut sejak ratusan tahun lalu dan turut menjaga keseimbangan alam di sana. Mereka sangat bergantung kepada alam sehingga setiap upacara adat yang dilakukan selalu untuk memberikan penghormatan dan persembahan kepada alam. Bahkan, ada salah satu upacara adat yang tujuannya mendoakan dan meminta maaf kepada alam, bumi, air, dan pepohonan karena setiap hari mereka memanfaatkannya.

Ada beberapa upacara adat yang diselenggarakan Suku Tengger, seperti upacara Karo dan Yadnya Kasada. Salah satu upacara adat yang diselenggarakan lima tahun sekali, dikenal dengan Unan-Unan, yang sangat menarik perhatian wisatawan maupun masyarakat umum untuk menyaksikannya.Setiap desa di Tengger wajib melaksanakan upacara ini. Upacara Unan-Unan bertujuan memberikan sedekah kepada alam dan isinya, termasuk kepada mereka yang menjaga tempat-tempat, seperti sumber mata air, desa, serta tanah pertanian. Selain itu, upacara Unan-Unan juga sering disebut sebagai bersih desa yakni membebaskan desa dari gangguan makhluk halus atau bhutakala sebagai tolak-balak serta permohonan penyucian agar terhindar dari segala penyakit dan penderitaan serta terbebas dari segala malapetaka. Bahkan umat manusia di seluruh dunia juga dimohonkan agar diberi keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian abadi (kureping langit lumahing bumi).

Upacara Unan-Unan dilaksanakan sekali dalam sewindu atau menurut kalender Tengger setiap 5 tahun sekali. Untuk menentukan tahun digunakan cara hitungan khusus dari adat Tengger. Dalam kalender Tengger masing-masing bulan dalam satu tahun dihitung mempunyai 30 hari. Pada tanggal dan bulan tertentu terdapat tanggal yang digabungkan karena adanya menak, yaitu tumbuknya dua tanggal. Dalam setiap tahun akan terdapat selisih 5 atau 6 hari. Setiap lima tahun sekali diadakan penyesuaian perhitungan jumlah hari. Pada periode lima tahunan, oleh karena setiap bulan terdapat selisih 5 atau 6 hari, maka jumlah sisa adalah 25 atau 26 hari. Jumlah hari tersebut dimasukkan pada hitungan bulan Dhesta (bulan kesebelas), tidak termasuk bulan tersebut dan bulan sebelumnya.

Dengan habisnya jumlah hari barulah perhitungan memasuki bulan Dhesta. Masyarakat Tengger kemudian kembali pada perhitungan hari, bulan, dan tahun dengan jumlah hari untuk setiap bulan dihitung 30 hari. Oleh karena itu, setiap lima tahun diadakan penyesuaian, yaitu pada bulan kesebelas (Dhesta) digunakan untuk penyelenggaraan upacara Unan-unan (berasal dari istilah tuna, yang artinya rugi). Unan-unan dapat berarti melengkapi kerugian dengan upacara setiap lima tahun sekali.

Penduduk Desa Ngadas terakhir kali mengadakan upacara Unan-Unan pada tanggal 30 Desember 2012 yang lalu. Sehari sebelum ritual Unan-Unan dimulai, warga Suku Tengger menyembelih seekor kerbau atau maeso yang akan dijadikan sebagai sesaji. Kepala kerbau tersebut diambil untuk diberikan kepada para danyang, ibu pertiwi, dewa dan ruh penjaga gunung berapi, dewa penjaga sumber air, dan buto yang ada di dalam serta di luar dusun. Kerbau merupakan binatang yang mempunyai karakter yang agung, kuat dan sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Tengger. Kerbau secara mitologi juga sebagai tunggangan Bethara Yama yang merupakan Dewa Keadilan dan Kebajikan.

Kepala kerbau itu kemudian ditempatkan di keranda terbuka, di mana kulit kerbau dijadikan alas untuk ditempati aneka sesaji yang telah disucikan. Kepala kerbau tersebut dilengkapi dengan berbagai ubo rampe seperti 100 nasi takir, wajik, makanan tradisional juwadah, pasung (dari tepung beras dibungkus daun pisang bentuk kerucut), tetel, nogosari atau pepes dan lainnya. Jajanan itu dibungkus dengan daun tlotok, daun yang dinilai memiliki arti sendiri oleh masyarakat Tengger. Selain itu disertakan juga sesaji berupa sirih kayu, pisang ayu, jambe ayu, dan 100 biji sate yang ditempatkan di mulut kerbau.

Setelah itu tandu yang berisi sesaji berupa kepala kerbau dan makanan tradisional itu diusung dari rumah Kepala Desa Ngadas menuju Sanggar Pamujan yang berjarak sekitar 500 meter. Arak-arakan ini dipimpin sang dukun, kepala desa, dan orang yang dihormati serta diikuti seluruh penduduk. Sedangkan keranda kepala kerbau dan ubo rampe digotong oleh enam orang. Di belakangnya lagi terdapat beragam alat musik dan jaran kecak yang ikut mengiringi. Ketika mengikuti acara ritual ini, masyarakat Tengger mengenakan pakaian adat. Laki-laki mengenakan blangkon batik warna coklat, pakaian serba hitam, dan sarung motif bunga kecubung warna hijau menutupi bagian punggung. Sedangkan bagi perempuan, cukup mengenakan sarung juga menutupi punggung. Kecuali bagi perempuan hamil, sebagian sarung harus menutupi perutnya.

Source Upacara Unan Unan di Suku Tengger Ngalam.id
Comments
Loading...