Upacara Tradisional Bersih Sendang

0 66

Upacara Tradisional Bersih Sendang

Dahulu kala ada Kadipaten yang pusat Pemerintahannya sebelah barat berbatasan dengan Kadipaten Gunung Merapi dan sebelah timurnya berbatasan dengan Kadipaten Gunung Lawu, Kadipaten ini dipegang oleh Adipati Ki Singodrono dengan Patihnya Ki Eropoko, semua bijaksana, tekun menggeluti ilmu kebatinan dan kamuksan.

Ki Eropoko mempunyai putri yang bernama Mas Ajeng Lulud yang canti parasnya dan menyukai segala tari tarian dan karawitan, pimpinan wadyobolo di Kadipaten tersebut menjadi bawahannya Nyi Roro Kidul dan setiap tahunnya di Kadipaten Gunung Merapi menyerahkan pisungsung manusia, sedang di Kadipaten Gunung Lawu berwujud Hewan.

Ki Singodrono dan Ki Eropoko tidak setuju dengan korban manusia, maka menyebabkan muksa, Ki Singodrono muksa di Sendang Barat dan Ki Eropoko muksa di Sendang Timur, pada suatu hari ada seorang petani, karena lelahnya mengerjakan sawahnya pada saat dia layap layap setengah tidur (layap layap mendengar suara : He Ki Petani agar hasil sawahmu banyak / melimpah dan cukup untuk hidup sekeluarga dan dapat sejahtera, nanti setelah panen hendaknya kamu mengadakan sesaji di Sendang ini yang berujud nasi tumpeng dengan memotong kambing lalu di masak dengan bumbu becek dan minumannya dawet lalu dipisung pisungkan kepada Nyi Roro Kidul seperti Kadipaten Gunung Lawu, maka sehabis panen tepatnya pada waktu hari Jumat Wage lalu mengadakan sesaji seperti apa yang telah ia dengar.

Lalu tradisi ini berjalan turun temurun dimulai pada saat petani tadi bermimpi untuk mengadakan syukuran sesuai cerita yang berkembang dan telah diyakini oleh masyarakat, menjadi suatu adat kepercayaan masyarakat desa Pokak Kecamatan Ceper. Dan pada perkembangannya bukan dari Desa Pokak saja namun masyarakat umumnyapun ikut dalam kegiatan bersih sendang dimaksud.

Masyarakat Desa Pokak merayakan ritual bersih sendang sebagai ungkapan rasa syukur atas semua reeki yang telah dilimpahkan dengan diwujudkan dengan pesta sesaji dalam bentuk nasi tumpeng dan minuman dawet dengan memotong kambing sebagai persembahan.

Pemotongan kambing dilakukan dibawah pohon karet yang umurnya telah ratusan tahun dan memakai alas pelataran akar pohon, sesuatu yang diluar jangkauan akal manusia dan seakan tidak wajar bahwa darah yang keluar dan mengucur di pelataran akar karet tersebut seakan hilang dan tidak berbekas, lenyap begitu saja. Padahal kambing yang dipotong tidak kurang dari 100 ekor kambing dan berjenis kelamin laki laki. Dan pada malam sebelum pemotongan diadakan tahlil di pelataran kanan kiri sendang.

Source http://lugtyastyono.blogspot.com http://lugtyastyono.blogspot.com/2010/02/yaaqowiyuu.html
Comments
Loading...