Upacara Suran Mbah Demang Modinan Sleman

0 305

Upacara Suran Mbah Demang Modinan Sleman

Modinan termasuk salah satu dusun yang ada di Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Sleman. Sedangkan letak Desa Banyuraden ini sekitar lima kilometer ke arah barat dari Kota Jogja. Sarana transportasi, komunikasi, dan pendidikan di Desa Banyuraden telah memadai. Sebagai wilayah yang terletak di pinggiran kota (sub-urban), kebanyakan mata pencaharian penduduk Desa Banyuraden adalah petani, atau buruh tani.

Di Dusun Modinan sendiri terdapat sebuah upacara adat yang dikenal dengan sebutan “Suran Mbah Demang”. Upacara ini diberi nama sesuai dengan nama tokoh penting dalam kehidupan masyarakat setempat dan bersangkutan juga dengan bulan Sura dalam kalender Jawa. Upacara ini diadakan oleh masyarakat Dusun Modinan untuk mengenang perjuangan hidup Ki Demang Cakradikrama, seorang demang-pabrik.

Ki Demang Cakradikrama adalah seorang demang yang gentur tapane (besar laku prihatinnya), memiliki kharisma yang tinggi, disegani dan dihormati oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Salah satu bentuk laku prihatin yang dijalaninya adalah mandi hanya setiap satu tahun sekali yaitu pada tanggal 7 Sura tengah malam. Sisa air mandi Ki Demang tersebut diambil oleh anak cucu dan sanak saudara untuk ngalap berkah. Sampai sekarang, tradisi ini masih tetap dilestarikan dan banyak warga masyarakat yang ikut ngalap berkah dengan mengambil air dari sumber air yang sama dengan yang dahulu dipakai mandi oleh Ki Demang Cakradikrama.

Ki Demang adalah seorang anak dari bekel Cakrajaya. Nama kecil dari Ki Demang adalah Asrah dan dikenal sangat nakal. Oleh ayahnya, Asrah dititipkan pada Demang Dowangan yang memberinya tugas angon bebek dan mencari satu ikat kayu bakar setiap harinya. Pada usia akhil balik, Asrah bertapa di rumah penatu selama sebulan. Ketika bertapanya mencapai sebulan, banyak orang mengira Asrah sudah meninggal di tempat pertapaan. Kemudian mulut Asrah ditetesi dengan cairan kanji, dan cairan kanji itu oleh Asrah diminum, dan ternyata Asrah memang masih hidup.

Sementara itu dalam pertapaannya Asrah bermimpi bertemu dengan dua orang yang berpakaian seperti haji dan orang tersebut memberi kitab kecil. Setelah selesai bertapanya, Asrah mencari kitab tersebut dan ditemukannya di sungai Bedog. Asrah menjadi orang yang sakti, dapat menyeberang sungai Bedog yang sedang banjir, dan bahkan mampu menghalau para penjahat yang sering merusak perkebunan milik Belanda.

Awalnya dari sayembara di daerah Dowangan untuk memberantas kejahatan di sekitar Kali Bedog dan Kali Bayem dan pemenangnya akan dijadikan mandor perkebunan. Asrah merasa tertantang walaupun banyak orang yang meragukan. Karena berhasil, Asrah diangkat menjadi mandor perkebunan. Pada suatu kemarau panjang, banyak perkebunan tebu di daerah Demakijo menjadi kering.

Atas permintaan pemilik pabrik gula dalam sayembara, Asrah menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit di tengah lapangan dan memohon kepada Yang Maha Agung untuk memberikan air bagi para petani yang kelaparan dan untuk memenangkan sayembara. Pada saat bagian “gara-gara”, terjadi hujan deras selama tiga hari tiga malam sehingga daerah yang semula kering menjadi berkelimpahan air, dan tanaman tebu menjadi tumbuh lagi. Akhirnya Asrah diangkat menjadi demang pabrik yang tugasnya mengawasi perkebunan milik pabrik gula di daerah Demakijo.

Setelah menjadi demang, Asrah berganti nama menjadi Cakradikrama yang dikenal dengan sebutan Ki Demang Cakradikrama. Semua keberhasilan Ki Demang tersebut berkat laku prihatin yaitu tidak makan garam, dan setiap sore laku tapa bisu mengelilingi rumahnya. Selain itu, Ki Demang juga ngaloki dengan mandi setahun sekali, yaitu setiap malam menjelang tanggal 8 Sura bertempat di sumur di  beiakang rumahnya.

Ki Demang dikenal sebagai orang yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain, dan selalu memberi hidangan makan bagi tamu yang datang ke rumahnya. Kebiasaan memberi hidangan ini, kemudian dilestarikan oleh anak cucu yang kemudian dikenal dengan tradisi pembagian kendhi ijo. Selain itu, Ki Demang juga berpesan kepada anak cucunya, “luwih becik menehi tinimbang diwenehi”, “tangan kuwi becik mengkurep tinimbang mlumah”, “sapa sing muwuhi bakal ditambah, lan sapa sing ngurangi bakal disuda” untuk memberikan rasa perlindungan kepada masyarakat di sekitarnya.

Upacara Suran Dusun Modinan diselenggarakan setiap tahun sekali pada tanggal 7 Sura, tepatnya saat tengah malam menjelang tanggal 8 Sura. Adapun pelaksanaan upacaranya bertempat di dusun di mana Ki Demang Cakradikrama terakhir bermukim, di Dusun Modinan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Sleman. Di dusun itu pula sumur sebagai sumber air yang pemah dipakai mandi oleh Ki Demang Cakradikrama berada.

Pada dasarnya pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini terutama adalah kerabat keturunan Ki Demang. Biaya yang diperlukan menjadi tanggungan kerabat keturunan Ki Demang. Orang yang memimpin dan mengatur upacara adalah anggota kerabat keturunan Ki Demang yang tertua, dan dibantu oleh tetua lainnya. Sementara itu, yang menjadi peserta upacara adalah anggota kerabat keturunan lainnya, yang juga berperan untuk menjaga kelancaran jalannya upacara ini.

Source Upacara Suran Mbah Demang Modinan Sleman Gudegnet
Comments
Loading...