Upacara Sesaji, Upacara Mahesa Lawung

0 101

Ratusan abdi dalem dan para sentono dalem nampak kompak. Busananya nyaris seragam. Atasan beskap, kain jarik coklat sebagai bawahan, blangkon di kepala, berkalung samir kuning keemasan, lengkap dengan keris di belakang pinggang. Jika sentono memakai beskap putih, maka para abdi dalem mengenakan beskap hitam. Semuanya tidak ada yang mengenakan alas kaki. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah sakral ini.

Pemilihan kepala kerbau sebagai inti dari acara ini tentu bukan tanpa alasan. Kerbau adalah simbol kebodohan. Seperti pepatah jawa kuno yang berbunyi “bodo longa-longo koyo kebo” yang berarti orang bodoh plonga-plongo seperti kerbau. Dengan mengubur kepala kerbau, secara filosofis menggambarkan upaya untuk memberantas kebodohan dalam kehidupan. Tak hanya kepalanya saja, kaki dan jeroannya pun ikut dikubur.

Selain sebagai simbol pembuang kebodohan, Upacara Mahesa Lawung juga digelar untuk memperingati perpindahan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dari wilayah Kartasura di Sukoharjo menuju ke Desa Sala yang sekarang berkembang menjadi Kota Solo. Dikisahkan bahwa di Alas Krendhowahono inilah tempat yang biasa digunakan raja-raja Mataram zaman dahulu untuk menyepi dan bersemadi guna mendapatkan wangsit atau petunjuk. Oleh sebab itu, wajar saja bila hawa magis di hutan ini terasa begitu kental saat pertama memasukinya.

Source https://cahsastrajawa.wordpress.com https://cahsastrajawa.wordpress.com/2016/01/01/upacara-sesaji-ing-karaton-surakarta-1/
Comments
Loading...