Upacara Sembahyang Tradisi Kematian Jawa Timur

0 365

Upacara Sembahyang Tradisi Kematian Jawa Timur

Sembahyang mayat itu dilakukan di rumah, digunakan daun pisang yang masih utuh (ujungan) sebagai alas, atau tikar yang baru. Kebiasaan menggunakan daun pisang itu karena alasan mudah di­dapat dan bersih. Tetapi di samping alasan yang praktis itu, menurut keterangan penduduk daun pisang yang berupa ujungan (pucuk) itu melam­bangkan bahwa yang meninggal  ketika hidupnya selalu jujur.

Jika yang meninggal itu seorang ulama atau seorang kyai, haji, sembah­yang jenazah itu dilakukan di langgar atau masjid. Selama persiapan untuk pemberangkatan mayat itu, para pelayat wanita menyiapkan bunga setaman, bunga ronce untuk penghias keranda dan bunga untuk sawur. Di luar para pelayat laki-laki membuat nisan dan keranda serta tlisik.

Keranda itu dibuat dari bambu, yang berupa usungan tempat tidur. Pada masing-masing empat sudutnya, dipasang bambu yang berfungsi sebagai pikulan/usungan. Selain bambu, kadang-kadang dibuat dari kayu, dan jika sudah selesai penggunaannya, dijadikan tlisik, di liang lahat. Baik keranda bambu maupun kayu jika sudah terpakai ikut ditanam bersama jenazahnya.

Keranda yang sudah siap itu kemudian dibawa ke dalam rumah, diletakkan di sisi jenazah yang sudah dikafani itu. Kemudian para anggota keluarga berkumpul sekeliling jenazah itu, dan ikut menyak­sikan pemindahan jenazah ke keranda.

Agar jenazah itu dapat dipin­dahkan secara serempak, dibacakan selawat sebagai aba-aba, yang dipimpin oleh Modin. Dengan hati-hati jenazah itu diletakkan dalam keranda, yang sudah diberi alas tikar baru dan kain panjang (sewek). Di atas pocongan itu, kemudian diletakkan tutup keranda yang berupa anyaman bambu yang jarang.

Setelah itu, di atas penutup tersebut, dibentangkan kain panjang atau kain penutup keranda yang khusus. Kain penutup keranda itu berwarna hijau, dihias dengan tulisan Arab yang berupa kalimah Syahadat dan pada sisinya yang lain dihias dengan nama perkumpulan dalam huruf romawi. Lurup itu pada tepinya dihias dengan pita kuning sepanjang keempat tepinya.

Setelah ditutup dengan lurup itu, diletakkan rangkaian bunga kenanga, melati dan janur kuning, yang dipotong menyerupai kelopak bunga. Rangkaian bunga tersebut ditempatkan kira-kira di atas kepala, di tengah sekitar pinggang, dan di bawah di atas feki. Jumlah rangkaian bunga yang tiga itu, mempunyai lambang seperti halnya tali tiga yang diikatkan pada kafan.

Dengan dimasukkannya jenazah ke dalam maka upacara serta persiapan pemakaman telah selesai. Tibalah saatnya untuk melaksanakan upacara pemakaman yang sebenarnya. Pemakaman merupakan babak akhir dari suatu rentetan upaca­ra sejak seorang meninggal dunia.

Pemberangkatan ke kuburan inilah yang dikenal sebagai acara pemakaman. Sebenarnya jika tidak ada yang dinanti, yang mungkin salah seorang keluarga dekatnya belum datang, segera mayat akan diberangkatkan. Kapan saat yang diang­gap tepat dan baik untuk pemberangkatan ke makam? Tentang hal ini banyak pendapat, yang berasal dari anggota masyarakat.

Salah satu di antaranya adalah karena alasan kepercayaan atau keyakinan yang mempercayai atau diterima secara turun-temurun. Jika mayat itu terpaksa diinapkan, karena ketika meninggal hari sudah sore atau menjelang maghrib, biasanya pemakaman ditunda sampai keesokan harinya. Penundaan itu karena belum seluruh keluarganya datang.

Walaupun tinggal seorang, jika hubungan antara si mati yang ditunggu demikian dekat, misalnya antara orang tua dengan anak-anaknya, atau seorang dengan saudara-saudara sekandung, saat pemakaman itu terpaksa ditunda.

Kalau segala sesuatu tentang pera­watan jenazah sudah dianggap selesai, dan tidak ada lagi orang-orang yang harus dinanti kedatangannya, maka jenazah segera diberangkat­kan ke makam. Mengubur seorang pada saat menjelang maghrib, atau sesudah waktu asyar, kurang disenangi, sebab hampir bersamaan waktunya dengan waktu atau saat Bethara Kala mencari mangsa­nya.

Source Upacara Sembahyang Tradisi Kematian Jawa Timur Pusaka Jawatimuran
Comments
Loading...