budayajawa.id

Upacara Ruwahan/Jodangan Klaten

0 9

Upacara Ruwahan/Jodangan Klaten

Upacara ruwahan/jodagan dilaksanakan di Desa Paseban, Kec. Bayat Kabupaten Klaten. Upacara Ruwahan/Jodangan dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon pada tanggal 27 Ruwah di Desa Paseban Bayat. Hal ini terjadi karena masyarakat khususnya di Bayat tidak dapat melupakan jasa-jasa Kyai Ageng Pandanaran yang telah ikhlas meninggalkan jabatan dan harta kekayaan.

Semata-mata untuk mencari kebahagiaan dan kesempurnaan di akhirat. Beliau diangkat menjadi wali pada hari Jum’at Kliwon tanggal 27 Ruwah. Setelah menjadi wali penutup, menggantikan wali Syeh Siti Jenar selama 25 tahun.

Maka tiap-tiap tanggal 27 Ruwah ditetapkan sebagai hari Jodangan/Ruwahan. Muncullah suatu kepercayaan dari masyarakat bahwa pada hari Jodangan/Ruwahan. Semua penduduk membuat hidangan/kenduri yang ditempatkan pada Jodang untuk dibawa bersama-sama naik ke Makam Kyai Ageng Pandanaran dengan diiringi Reog atau Rodad. Para penduduk berkumpul di gapura pertama yang tercantum sengkalan Murti Sariro Jlengging Ratu (berarti tahun berdirinya gapura 1488). Setelah perlengkapan lengkap mulailah para wanita nyunggi tenong. Para pria memikul jodang diiringi dengan Reog/Rodad.

Berjalan perlahan-lahan menuju gapura kedua yang bernama Segoro Muncar. Di sebelah kanan gapura terdapat langgar sedang di kirinya terdapat sebuah bangunan yang disebut Balai Rante. Iring-iringan berhenti sejenak. Reog/Rodad berhenti di Balai Rante untuk terus mengadakan pertunjukan, sedang pembawa jodang terus menaiki undak-undakan.

Tangga batu berakhir pada sebuah Masjid yang terdapat bangsal pria yaitu Bangsal Jawi, setelah melewati gapura Pangrantunan sampai pada bangsal wanita yaituBangsal Jero. Dengan melalui tiga gapura lagi yaitu Pangemut, Pamuncar, dan Bale Kencur sampailah pada pendopo Praboyekso.

Disinilah para pembawa jodang berhenti untuk mengadakan upacara selamatan dengan membaca tahlil dan doa. Setelah upacara selesai para sesepuh/orang terkemuka menaiki tangga batu yang di kiri kanannya terdapat sepasang Gentong Sinogo. Setelah melalui gapura terakhir sampailah pada Gentong Intan tempat dimana Sunan Tembayat dimakamkan dengan kedua istri beliau.

Para sesepuh dan pemuka agama dan orang-orang terkemuka mengadakan upacara penggantian Singep. Upacara tradisional Jodangan/Ruwahan dianggap telah selesai dan diteruskan kembul bersama. Hidangan dibagi-bagikan pada semua yang datang dan sebagain dibawa turun untuk pemain Reog/Rodad.

Upacara Jodangan/Ruwahan ini berjalan tiap-tiap tahun setelah sholat Jum’at dan satu minggu. Sebelum hari pelaksanaan diadakan upacara membersihkan makam yang berada di komplek makam Sunan Tembayat. Satu minggu sebelum hari pelaksanaan tempat ini sudah ramai dikunjungi orang.

Source https://nonobudparpora.wordpress.com/ https://nonobudparpora.wordpress.com/yaaqowiyuu/
Comments
Loading...