Upacara ritual king ho ping dan sesajennya

0 79

Puluhan warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menggelar “King Hoo Ping” atau “Sembahyang Rebutan” di Kelenteng Cu An Kiong, Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Minggu petang.

Ibadah itu dilakukan dua kali dalam setahun yakni setiap tanggal 15 dan 19 bulan 7 Imlek untuk mengenang serta menghormati arwah para leluhur. Prosesi sembahyang tersebut dimulai dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian dilanjutkan menyanyi lagu rohani, mendengarkan makna upacara “King Hoo Ping”, dan diakhiri sembahyang bersama.

Seorang pengurus Kelenteng Cu An Kiong Lasem, Liem Kiem Bing, mengatakan, “King Hoo Ping” bermakna penghormatan kepada leluhur atau sahabat. “Terutama arwah yang tidak lagi mendapat perhatian dari sanak keluarganya yang masih hidup, arwah gentayangan, dan arwah yang terpinggirkan. Para leluhur itu tetap dihormati,” katanya, Minggu.

Ia menjelaskan, upacara semacam itu tidak berarti mendewakan para leluhur.

Namun, katanya, dilakukan untuk mengingatkan kepada manusia agar tidak melupakan asal-usulnya, sehingga umat manusia tidak melupakan budi, jasa, dan kasih dari leluhurnya.

Saat pelaksanaan upacara, pihaknya menyertakan sesaji berupa 12 masakan, berbagai jenis makanan, minuman, dan buah-buahan.

“Sesaji itu untuk mengenang seolah-olah memperlakukan leluhur ketika masih hidup,” kata Liem Kiem Bing alias Budi Karuna Sutikno itu.

Buah-buahan yang disajikan, katanya, minimal berupa pisang dan jeruk.

“Kedua buah itu memiliki arti sangat penting. Pohon pisang selalu tumbuh setiap saat dan ada di mana-mana. Dengan harapan, para umat mendapatkan berkah setiap saat tanpa ada batas waktu,” katanya.

Ia mengatakan, buah jeruk juga memiliki arti yang banyak.

“Harapannya, setiap warga yang berdoa selalu mendapat limpahan berkah yang banyak juga,” katanya.

Makanan lain yang disuguhkan berupa tiga daging yakni daging ayam, ikan laut (ikan bandeng), dan babi.

Ketiganya, kata dia, juga memiliki filosofi tersendiri.

Ia mengatakan, ayam simbol binatang yang rajin.

“Mulai pagi hingga sore, ayam selalu berkeliaran yang diartikan sebagai rajin bekerja. Manusia juga diharap bisa rajin bekerja seperti filosofinya ayam. Begitu pula ikan laut. Ikan diartikan tidak pernah habis kalau dimakan. Sebab sisanya masih terdapat tulang. Maknanya, kalau kita sudah rajin bekerja dan mendapat keuntungan, maka harus dihemat,” katanya.

Ia mengatakan, babi ibarat celengan yang menjadi simbol bahwa manusia harus pandai menabung untuk hari tua.

Source https://www.kaskus.co.id https://www.kaskus.co.id/show_post/000000000000000516733471/39/upacara-king-hoo-ping
Comments
Loading...