Upacara Rebu Wekasan Wonokromo Bantul

0 39

Upacara Rebu Wekasan Wonokromo Bantul

Wonokromo merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul. Desa ini dibagi menjadi 12 dusun, yaitu Dusun Wonokromo I, Wonokromo II, Karanganom, Ketanggajati, Sarean, Jejeran I, Jejeran II, Brajan, Pandes I, Pandes II, Demangan, dan Kapen.

Desa Wonokromo cukup dikenal sebagai daerah santri dan di setiap RW terdapat langgar atau masjid. Sebagian besar penduduknya menyambung hidup sebagai petani dan pedagang. Di Desa Wonokromo terdapat juga sebuah upacara adat yang dikenal dengan sebutan upacara Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan.

Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan di Desa Wonokromo ini diadakan setahun sekali. Pada hari Selasa (malam Rabu) di minggu terakhir bulan Sapar. Disebut demikian karena upacara ini diadakan pada hari Rabu terakhir pada bulan Sapar. Kata sapar identik dengan ucapan kata syafar yang berarti bulan Arab yang ke dua. Dalam perkembangannya, kata syafar tersebut menjadi salah sebuah nama bulan Jawa yang kedua.

Dalam upacara adat ini, puncak acaranya terjadi pada hari Selasa malam atau malam Rabu. Awalnya upacara ini dipusatkan di depan masjid dan biasanya seminggu sebelum puncak acara sudah diadakan keramaian, yaitu pasar malam.

Upacara ini dipilih hari Rabu, konon katanya hari terakhir dalam bulan Sapar tersebut merupakan hari pertermuan antara Sri Sultan HB I dengan mBah Kyai Faqih Usman. Berdasarkan pada hari itulah kemudian masyarakat menyebutnya dengan istilah upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan.

Upacara Rebo Wekasan ini diselenggarakan sebagai ungkapan syukur kepada Yang Maha Agung. Serta untuk mengenang dan menghormati seorang kyai pertama di Wonokromo (Kyai Faqih Usman atau Kyai Welit) yang mampu menyembuhkan segala penyakit.

Dan dapat memberikan berkah untuk kesuksesan usaha atau untuk tujuan-tujuan tertentu. Mitos tentang Upacara Rebo Wekasan ada beberapa versi. Namun makna dan prosesi upacara tersebut ada kesamaan, yakni tentang kyai yang tinggal di Desa Wonokromo dan mempunyai berbagai kesaktian.

Versi 1

Rebo Wekasan sudah ada sejak tahun 1784 hingga sekarang. Pada zaman itu dikenal seorang seorang kyai yang bemama mBah Faqih Usman. Kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Wonokromo atau Kyai Welit. Kyai Wonokromo mempunyai kelebihan ilmu di bidang agama dan bidang ketabiban atau penyembuhan penyakit dengan metode atau cara disuwuk, yakni dibacakan ayat-ayat Al Quran pada segelas air yang kemudian diminumkan kepada pasiennya.

Saat itu, di daerah Wonokromo dan sekitarnya, terjadi pagebluk. Masyarakat mendatangi mBah Kyai untuk meminta obat dan berkah keselamatan. Ketenaran mBah Kyai semakin tersebar, sehingga yang datang pun semakin bertambah. Sehingga suasana di sekitar masjid dipadati para pedagang yang ingin mengais rejeki dari para tamu.

Suasana seperti itu mengganggu akan pelaksanaan ibadah sholat di masjid. Kemudian Mbah Kyai memutuskan untuk memberikan pengobatan dan berkah keselamatan dengan menyuwuk telaga di pertemuan Kali Opak dan Kali Gajahwong yang berada di sebelah timur kampung Wonokromo atau tepatnya di depan masjid.

Ketenaran mBah Kyai Faqih terdengar oleh Sri Sultan HB I dan kemudian empat orang prajurit Kraton membawanya menghadap ke Kraton dan memperagakan ilmunya di sana. Ternyata Sri Sultan HB I terkesan atas kemampuan menyembuhkan orang sakit tersebut.

Sepeninggal mBah Kyai, masyarakat meyakini bahwa mandi di pertemuan Kali Opak dan Kali Gajahwong dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan mendatangkan berkah ketentraman. Aktivitas tersebut dapat juga dimaknai sebagai manusia menyucikan diri atau selalu “wisuh” untuk menghilangkan kotoran yang melekat di tubuh. Namun ada sebagian masyarakat yang mengartikan lain, bahwa “wisuh” atau mandi tadi diartikan lain, yakni mandi dengan “misuh” atau berkata kotor.

Versi 2

Upacara Rebo Wekasan ini dikaitkan juga dengan Kraton Mataram dengan Sultan Agung yang dulu pernah bertahta di Plered. Terdapat data yang menyebutkan bahwa upacara adat ini diselenggarakan sejak tahun 1600. Pada masa itu, Mataram terjangkiti pagebluk dan Sultan Agung bersemedi di sebuah masjid di desa Kerta.

Sultan menerima wangsit, bahwa wabah penyakit tersebut bisa hilang dengan syarat mempunyai tolak bala. Kemudian Sultan Agung memanggil Kyai Sidik yang bertempat tinggal di Desa Wonokromo untuk melaksanakan pembuatan tolak bala tersebut. Setelah itu Kyai Sidik yang dikenal juga sebagai Kyai Welit melaksanakan dhawuh untuk membuat tolak bala yang berwujud rajah dengan tulisan arab Bismillahi Rahmanir Rakhim sebanyak 124 baris.

Rajah tersebut dibungkus dengan kain mori putih dan diserahkan kepada Sultan Agung supaya rajah tersebut dimasukkan ke air dalam bokor kencana. Air ajimat itu kemudian diminumkan kepada orang sakit dan menyembuhkan. Mulai saat itu kabarnya tersebar sampai desa–desa dan menyebabkan orang sakit lalu berbondong bondong datang untuk mendapatkan air dari ajimat tersebut.

Dikhawatirkan air tersebut tidak mencukupi sehingga akhirnya Sultan Agung memerintahkan kepada Kyai Sidik. Agar air yang masih tersisa dituangkan di tempuran kali Opak dan Gajahwong. Dengan maksud supaya siapa saja yang membutuhkan cukup mandi di tempat tersebut. Berita itu cepat menyebar dan akhirnya masyarakat banyak yang mandi atau sekedar mencuci muka tempuran tersebut dengan harapan segala permasalahannya dapat teratasi.

Versi 3

Bagi sebagian masyarakat, bulan Sura dan Sapar adalah bulan yang penuh mala petaka. Oleh karena itu masyarakat berusaha agar pada dua bulan tersebut tidak terjadi apa-apa. Adapun caranya adalah memohon kepada orang atau kyai yang dianggap lebih pintar atau mumpuni.

Pada waktu itu orang yang dianggap pintar adalah Kyai Muhammad Faqih dari Desa Wonokromo yang disebut juga Kyai Welit, karena pekerjaannya adalah membuat welit atau atap dari rumbia. Mereka datang pada Kyai Welit supaya  dibuatkan tolak bala yang berbentuk rajah bertuliskan Arab. Rajah ini kemudian dimasukkan ke dalam bak yang sudah diisi air lalu dipakai untuk mandi dengan harapan supaya yang bersangkutan selamat.

Dalam perkembangannya Kyai Welit memasang rajah di tempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong agar orang -orang tidak perlu datang pada Kyai Welit dan cukup mengambil air atau mandi di tempuran untuk mendapatkan berkah keselamatan sebagai sarana tolak bala. Konon di tempuran itu, setiap Rebo Wekasan bulan Sapar, yaitu pada malam Selasa, dipakai tempat penyeberangan orang-orang yang akan menuju ke Gunung Permoni yang terletak di Desa Karangwuni, Desa Trimulya.

Saat mereka menyeberang sungai memang ada yang melontarkan kata-kata umpatan atau kurang pantas. Apalagi yang menyeberang adalah wanita dengan sendirinya harus cincing atau mengangkat rok/kain supaya tidak basah. Dan situlah yang kemudian orang mengatakan kata-kata yang kurang pantas.

Mereka menyeberang sungai karena waktu itu untuk menuju ke Gunung Permoni belum ada jembatan yang menghubungkan. Untuk itu satu-satunya jalan adalah menyeberang tempuran tadi. Gunung Permoni ini merupakan Tamansari Kraton Mataram di Plered.

Di tempat itu dijumpai adanya beberapa batu peninggalan, diantaranya: Batu Ambon, Batu Panah, Batu Payung, Batu Jarum Sembrani dan sebagainya. Mereka yang datang ke sana adalah nenepi atau untuk memohon sesuatu. Kaitannya dengan Rebo Wekasan ini adalah banyaknya masyarakat yang menghadap kepada Kyai Faqih untuk meminta doa kepada beliau agar selamat dari malapetaka.

Pada zaman dahulu, peralatan yang digunakan untuk upacara cukup sederhana terutama bagi yang mengambil air, cukup membawa botol atau kaleng saja. Sedangkan untuk sesajinya berupa bunga. Namun setelah dikelola oleh perangkat desa.

Maka peralatan yang digunakan bermacam-macam dan umumnya dibuat dari bambu, misalnya untuk tempat menggotong lemper, tempat membawa gunungan, dan sebagainya. Adapun makna yang terkandung dalam lemper tersebut untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa Sultan Agung itu penggemar lemper.

Dalam menyambut Upacara Rebo Wckasan atau Rebo Pungkasan di Desa Wonokromo, Kecamatan Plered, biasanya seminggu sebelum puncak acara telah terdapat stan-stan permainan seperti ombak banyu, trem, dremolem, dan sebagainya. Kemudian ada pasar malam yang bentuknya seperti sekaten, yakni ada yang berjualan pakaian, makanan, mainan dan sebagainya. Tentunya juga dijumpai orang-orang yang berjualan lemper.

Pada tahun 1990, tradisi upacara Rebo Wekasan sudah dikoordinir oleh panitia dan sebagai puncak acara adalah kirab lemper raksasa, yaitu sebuah tiruan lemper yang berukuran tinggi 2,5 meter dengan diameter 45 cm. Lemper tersebut kemudian diarak dari Masjid Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo sejauh 2 km.

Dalam kirab lemper ini diawali dengan barisan prajurit Kraton Ngayogyakarta. Menyusul kemudian lemper raksasa tiruan yang diusung oleh empat orang. Diikuti lemper yang berukuran sepanjang 40 cm dan 15 cm. Selanjutnya yang di belakangnya lagi adalah beberapa kelompok kesenian setempat seperti Salawatan, Kubrosiswo, Rodat, dan sebagainya. Di Balai Desa Wonokromo, diadakan pemotongan lemper raksasa dan kemudian dibagi-bagikan kepada peserta upacara adat tersebut.

Source https://gudeg.net/ https://gudeg.net/direktori/333/rebo-wekasan-wonokromo.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.