Upacara Pernikahan Cio Tau yang Hampir Punah

0 50

Upacara Pernikahan Cio Tau yang Hampir Punah

Upacara pernikahan merupakan salah satu hal yang lumrah dan sering diadakan di berbagai daerah. Namun, berbeda dengan upacara pernikahan Cio Tau yang mungkin terdengar asing di telinga kebanyakan orang karena upacara pernikahan Cio Tau ini sudah jarang dilakukan. Upacara pernikahan Cio Tau ini sendiri berasal dari daerah Tangerang, Banten lebih tepatnya upacara pernikahan Cio Tau ini biasa dilakukan oleh suku Tionghoa Benteng yang merupakan masyarakat asli di wilayah Tangerang.

Pada upacara pernikahan Cio Tau ini mula-mula pasangan pengantin diharuskan untuk melakukan sembahyang di meja samkai sebagai simbol penghormatan kepada leluhur. Kemudian, orangtua dari kedua mempelai diharuskan melakukan penyalaan lilin besar yang berada di meja samkai sebagai simbol dari memberi penerangan bagi anak-anaknya sebelum menikah. Setelah itu, pasangan pengantin melakukan sembahyang di tempat penghormatan kepada Thien atau Tuhan yang biasanya terletak di depan rumah dan dilanjutkan dengan melakukan sembahyang di Cap Kun Kong atau dewa dapur.

Setelah melakukan sembahyang kepada Thien dan dewa dapur, pasangan pengantin melanjutkannya dengan melakukan sembahyang kepada altar leluhur yang sudah meninggal. Pasangan pengantin diharuskan melakukan pemasangan 4 pasang lilin, 2 pasang lilin besar yang ditujukan kepada leluhur dekat seperti kakek atau nenek sedangkan 2 pasang lilin kecil ditujukan kepada leluhur jauh seperti para nenek moyang. Setelah itu, pasangan pengantin melakukan sembahyang di kursi yang berada tepat di depan altar leluhur.

Pada kursi ini terdapat perlengkapan Cio Tau dan sembahyang ini ditujukan untuk melakukan penghormatan terhadap budaya. Perlengkapan Cio Tau ini biasanya berupa Gantang atau tempat beras yang menjadi simbol bahwa kehidupan pernikahan itu segala kebutuhan itu harus tercukupi, Buku Tungsu yang merupakan buku pedoman yang berisi tata cara upacara-upacara yang ada dalam suku Tiong Hoa, sisir yang mengingatkan pengantin bahwa dalam setiap permasalahan pasti akan ada jalan keluar, timbangan yang menjadi simbol keadilan dalam kehidupan rumah tangga, gunting yang menjadi simbol kerjasama dalam pernikahan, cermin untuk mengingatkan pasangan pengantin untuk mengintropeksi diri dan tidak berusaha mencari kesalahan orang lain, pedang yang mengingatkan pasangan pengantin untuk selalu membela kebenaran, meteran untuk mengingatkan pasangan pengantin agar dapat mengukur segala hal yang dilakukan sehingga sesuai dengan keadaan, dan juga sumpit yang memiliki tinggi yang sama sebagai simbol bahwa dalam hubungan pernikahan diperlukan sikap bijaksana yang ditunjukkan satu sama lain.

Selain melakukan sembahyang, pada upacara pernikahan Cio Tau ini dilakukan makan 12 mangkuk. Kegiatan makan 12 mangkuk ini diawali oleh pengantin laki-laki baru diikuti oleh pengantin perempuan. Hal ini menyimbolkan bahwa seorang istri harus menunggu suami pulang terlebih dahulu sebelum makan. Kemudian, 12 mangkuk ini ditata dengan posisi 4 baris ke samping dan 3 baris ke depan. Posisi ini menandakan 4 musim yang setiap musim berlangsung selama 3 bulan. Makanan yang terdapat pada setiap barisnya melambangkan jenis makanan yang terdapat disetiap musim dan hal ini juga menggambarkan bahwa dalam suatu hubungan pernikahan ketika segala kebutuhan di musim apapun dapat tercukupi maka suatu hubungan dapat terjalin dengan baik. Setelah itu, orang tua dari masing-masing pengantin menyuapi pengantin dengan nasi yang dimasukkan ke dalam air gula. Hal ini guna mengingatkan sang pengantin akan jasa orangtuanya yang merawatnya dari kecil hingga dewasa dan juga untuk mengingatkan bahwa jika sesuatu yang masuk ke dalam mulut sang pengantin itu adalah hal yang manis maka segala tutur kata yang keluar dari mulut sang pengantin juga pasti hal yang manis.

Selain itu, diadakan pula prosesi penyisiran rambut sang pengantin oleh adiknya. Prosesi ini dilakukan untuk mengingatkan pengantin bahwa setiap permasalahan serumit apapun itu pasti dapat dipecahkan bersama. Setelah prosesi penyisiran rambut, semua anggota keluarga berkumpul di depan altar leluhur untuk memberikan uang pelita di atas kursi yang berisi perlengkapan Cio Tau. Uang ini dianggap sebagai perbekalan bagi pasangan pengantin dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Hal unik yang ada dalam prosesi pemberian uang pelita ini adalah uang yang diberikan tidak dimasukkan ke dalam amplop terlebih dahulu, hal ini menyimbolkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga antara pasangan suami istri harus ada keterbukaan mengenai sumber dari uang yang diperoleh.

Biasanya serangkaian Upacara Pernikahan Cio Tau ini dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat yang secara khusus mempelajari rangkaian upacara khas suku Tiong Hoa. Namun, saat ini jumlah tokoh masyarakat tersebut mengalami penurunan yang drastis dikarenakan orang-orang lebih memilih mengadakan pernikahan dengan konsep internasional dan melupakan tradisinya sendiri. Oleh karena itu, mari kita lestarikan Upacara Pernikahan Cio Tau yang sudah hampir punah ini!

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Upacara-Pernikahan-Cio-Tau-yang-Hampir-Punah/
Comments
Loading...