Upacara Pemakaman Raja-Raja Kraton Yogyakarta

0 453

Kematian Raja-Raja Kraton Yogyakarta

Uborampe yang berhubungan dengan upacara pemberangkatan jenazah diantaranya yaitu kentongan masjid, kendi yang yang terbuat dari tanah, sapu lidi, beras kuning, dan uang recehan serta kembang setaman. Sedangkan upacara bubak dalan yaitu pemukulan kentongan, penyebaran beras kuning, air kendi dijalankan oleh paro kyai atau perempuan uzur atau perempuan yang sudah melewati masa menstruasi. Semua ini untuk mengawali pemberangkatan ke Imogiri (perlengkapan yang bersifat cucuking lampah).

Komposisi dan konfigurasi peserta upacara, bila raja meninggal dunia maka pimpinan upacara berada di tangan pepatia dalem danurejo sebagai perdana mentri kesultanan atau wasir yang mengepalai sekuruh unit pemakam sampai seratus harinya. Sesepuh atau pimpinan upacara tidak mengikuti ke makam. Untuk undangan raja atau bangsawan menjadi tanggung jawab residen Belanda di Jawa.

Apabila permaisuri, putra mahkota atau adipati anom meninggal dunia maka sultan menunjuk tim khusus untuk menyelenggarakan upacara pelepasan jenazah. Dalam upacara pelepasan jenazah raja tidak ada master seremoni atau protocol Cuma yang biasa dilakukan pengaturan secara lisan. Kemudian dalam upacara pemberangkatan dan tuguran (berjaga semalam suntuk) dipimpin oleh penghulu agung kerajaan yang didampingi oleh suranata, putihan dan abdi dalem pemetaan serta sepenuhnya dibantu oleh abdi dalem petilasan atau pengulon. Sementara perabot dan penghulu dibagi menjadi 4  bagian yaitu :

  1. Penasehat ritual keagamaan menjadi tugas penghulu agung
  2. Penghulu masjid kraton yang berada di mlangi (masjid keratin atau patok negoro)
  3. Penghulu kraton yang berada di ploso.
  4. Penghulu masjid kraton yang berada di wonokromo

Seluruh koordinasi masjid local dan regional mendapat pembiyaan dari kraton. Sedangkan penghulu bertanggungjawab pada masing-masing masjid dan juga bertanggungjawab kepada sultan. Perlekapan atau property pemakaman jenazah biasanya menggunakan kereta kerajaan atau kereta jenazah yang biasa digunakan oleh para raja di kawasan setempat.

Kalangan bangsawan kraton Yogyakarta  mempunyai tiga tempat pemakaman yaitu : makam Imogiri Bantul, makam Hastorenggo dan Girigondo di kotagede. Khusus untuk pemakaman raja tau sultan ditempatkan di Imogiri. Upacara pemakaman bagi kalangan bangsawan memang berbeda dengan upacara pemakaman rakyat biasa tetapi inti upacaranya sama, misalnya dalam hal upacara Mbrobosan, cara menurunkan peti jenazah posisi dalam liang lahat dan pembacaan doa bagi jenazah.

Apabila yang  mengangkat raja atau sultan, menjelang  pemakaman para anggota keluarga dan segenap punggawa abdi dalem berkumpul ditempat-tempat yang tidak sama. Para putra putri berkumpul di dalam (istilah ruang dalam). Prajurit pesisiran yaitu pegawai kraton, pegawai kesultanan berkumpul di pintu gerbang pintu mlati. Sedang para abdi dalem ponakawan dan perintah luhur berada di halaman kraton. Selanjutnya abdi dalem lainnya yaitu abdi dalem penghulu siap di bangsal Sri manganti. Abdi dalem jawi berada di bangsal ponconiti. Setelah tiba saatnya diberangkatkan, biasanya antara jam 10.00 WIB, jenazah segera diangkat keluar istana lewat gerbang istana. Peti diangkat oleh putra putri, cucu, dan para sentana (sanak keluarga) dengan bantuan para prajurit. Sebelum keluar dari pintu gerbang selatan sejenak dihalaman kraton, diadakan sumurup (Brobosan).

Sesampainya di pemakaman, pengurusan selanjutnya ditangani abdi dalem juru kunci. Upacara ini diawali dengan pemberian penghormatan kepada jenazah oleh para sanak keluarga maupun abdi dalem dengan cara berbaris di kanan-kiri jalan yang akan dilalui jenazah. Sebelum memasuki makam Imogiri diistirahkan untuk sementara di paseban. Biasanya penghulu membacakan doa. Petugas formal untuk mengkebumikan jenazah raja adalah pepatih dalem yang pelaksanaan teknisnya samapi 8 orang bertugas mengerek peti, yang biasanya dibantu 2 orang dimulut liang lahat, kedalam liang lahat seyogyanya sededeg-pengawe atau setinggi orang yang berdiri sambil mengacungkan tangannya. Setelah ada peletakkan peti, petugas adzan dilanjutkan dengan Iqomah dan membacakan takqin. Selanjutnya cepuri atau karas (bagian dari liang kubur) Ditutup dengan papan atau batu, untuk kemudian mulai ditimbun dengan tanah. Para pengiring jenazah terutama kerabat dekat yaitu dengan melemparkan masing-masing dengan 3 gengam tanah ke liang kubur. Orang yang pertama kali melempar tanah mengucapkan “siro kabeh pada ingsun dedeake saka ing lemah” (Atau kamu semua kami jadikan dari tanah). Pelempar kedua mengucapkan “lan siro kabeh ingsun balake dadi lemah (dan kamu semua kembali menjadi tanah)”. Pelempar ketiga mengatakan “siro kabeh bakal insun wetoke soko ing lemah (kamu semua akan dikeluarkan dari tanah).

Source Upacara Pemakaman Jenazah pada Upacara Kematian Raja-Raja Kraton Yogyakarta Sosiologi
Comments
Loading...