Upacara Pelet Kandhung pada Masyarakat Madura

0 45

Upacara Pelet Kandhung pada Masyarakat Madura

Sebagian besar masyarakat di Indonesia mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (Koentjaraningrat, 1985; Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat.

Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung atau pelet betteng (pijat perut) pada masyarakat Madura, khususnya yang berada di daerah Bangkalan dan Sampang.

Penyelenggaraan upacara pelet kandhung diadakan ketika usia kandungan seseorang telah mencapai tujuh bulan. Sebelum upacara diadakan, pada bulan pertama saat seorang perempuan mulai mengandung, diadakan upacara nandai. Pada saat upacara nandai selesai, akan ditaruh sebiji bigilan atau beton (biji nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut.

Dan, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh biji bigilan yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan, maka diadakanlah upacara pelet kandhung atau pelet betteng. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung ini diadakan secara meriah hanya pada saat seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya. Pada masa kehamilan yang kedua, ketiga, dan seterusnya, upacara pelet kandhung tetap diadakan, namun tidak semeriah upacara pada saat mengalami kehamilan untuk pertama kalinya.

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut:

(1) tahap pelet kandhung (pijat perut);

(2) tahap penyepakan ayam;

(3) tahap penginjakan kelapa muda dan telur;

(4) tahap pemandian; dan

(5) tahap orasol (kenduri). Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat Isya, dengan pertimbangan bahwa malam bulan purnama adalah malam yang dirahmati Tuhan dan para peserta upacara telah terlepas dari rutinitas keseharian mereka.

Tempat pelaksanaan upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman belakang rumah. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine atau emba nyae (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai).

Sedangkan, acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyae atau ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet betteng adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pihak suaminya. Di samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin.

Source http://uun-halimah.blogspot.co.id/ http://uun-halimah.blogspot.co.id/2008/07/upacara-pelet-kandhung-pada-masyarakat.html
Comments
Loading...