Upacara Nangtungken Kolecer, Tak Sekadar Mainan Tapi Penuh Makna

0 61

Kampung Bolang Desa Cibuluh Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang sudah berkumpul. Bapak-bapak dan pemuda sibuk menyelesaikan bagian-bagian kolecer (baling bambu dalam Bahasa Sunda). Rupanya akan segera terselenggara upacara nangtungken kolecer.

Ibu-ibu menyiapkan tumpeng, dan aneka makanan khas kampung. Setelah semua selesai, sekitar pukul 9.00 WIB warga berkumpul, mereka mengenakan pakaian khas, laki-laki kampret, dan wanita kebaya. Setelah semua siap, mereka membentuk barisan, paling depan laki-laki membawa bagian-bagian kolecer, diikuti ibu-ibu membawa berbagai jenis makanan. Disusul anak-anak dan remaja, ikut dibarisan sambil memainkan angklung dan dogdog. Menyusuri jalan di kampung bolang 1, terdengar pula suara kolecer mainan anak-anak menyertai iring-iringan.

Dilokasi, ibu-ibu menyambut iring-iringan dengan memainkan tutunggulan. Semua rombongan berkumpul, dan bagian-bagian kolecer pun mulai dipasang.

Diawali memasang tiang terdiri dari tiga bambu, dua bambu utuh, dan satu bambu dibuat/dipasang pijakan. Setelah tiang yang tingginya sekitar 10 meter dinilai cukup kokoh, “pendaki” mulai naik,¬†Rosidin bertugas memasang kolecer dipaling atas. Bagian bubuntut/jajabig panjangnya 8 meter dinaikan. Saat proses memasang bubuntut berlangsung cukup menegangkan. Sebab dipasangnya di puncak tiang bambu. Tak lama bagian bubuntut, akhirnya bisa dipasang dipuncak tiang. Bersamaan itu langsung disambut riuh warga, termasuk bunyikan kolecer mainan. Terakhir bagian kolecer (Yang berputar) tak mengalami kendala bisa langsung dipasang.

“Kalau orang tua kami dulu, mereka bisa memprediksi cuaca dari angin lewat kolecer, seperti kecepatan, kontinuitas putaran, dan arah kolecer. Termasuk dari suara kolecer,” ujarnya.

Dikatakannya, bentuk kolecer ini terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu bubuntut/belakang simbol tekad, bagian tengah dan kolecernya simbol ucap serta putaran dunia, tiangnya simbol lampah/langkah. “Jadi ada tekad, ucap, dan lampah. Buana luhur, buana pancatengah, dan buana larang, menggambarkan tri tangtu, tilu sapamulu, dua sakarupa, nuhiji eta keneh. Sistem tiga itu menjadi media wujud syukur ke alam. Ketika kolecer bisa berputar itu filosifi datangnya sanghyang hirup, muncul tritangtu. Jadi bukan hanya berputar oleh angin, tetapi dipandangkan bisa melahirkan karahayuan,” ujarnya.

Source https://www.pikiran-rakyat.com https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/11/19/upacara-nangtungken-kolecer-tak-sekadar-mainan-tapi-penuh-makna-414068
Comments
Loading...