Upacara Mboyong Kayu Wunglen Di Makam Raja-raja Mataram Imogiri

0 43

Upacara Mboyong Kayu Wunglen Di Makam Raja-raja Mataram Imogiri

Upacara dan tata cara mengagungkan roh leluhur banyak macam dan ragamnya. Semuanya berhubungan dengan peristiwa kematian dan selametan. Mengagungkan, menghormati dan memperingati roh leluhur sudah dikenal orang Jawa dan dilaksanakan sejak nenek moyang beberapa tahun yang silam, sebelum Hindu masuk ke pulau Jawa.

Upacara-upacara mengagungkan roh leluhur dilakukan di tempat-tempat yang dianggap keramat dan suci. Berkaitan dengan kepercayaan tersebut upacara-upacara tradisi di makam raja-raja Mataram di Imogiri bertujuan untuk menghormati roh-roh para leluhur. Yaitu para raja yang dimakamkan di tempat tersebut, khususnya Sultan Agung yang dianggap sebagai pepunden (orang yang dimuliakan) rakyat, sebagai tokoh yang pintar dan hebat.

Selain tujuan tersebut juga untuk mencari berkah dari kekuatan ghaib yang ada di makam Imogiri. Salah satu upacara yang ada di makan Raja-raja Mataram Imogiri yaitu upacara mboyong kayu wunglen. Kayu wunglen dipercayai sebagai salah satu wasilah/pengantar Sultan Agung untuk memberikan pertolongan.

Menurut cerita, kayu wunglen ini peninggalan Kanjeng Sultan yang dianggap keramat. Kayu tersebut dapat dijadikan untuk menjaga badan dari gangguan sesuatu yang ghaib, dapat menambah kewibawaan serta dapat juga menyembuhkan orang sakit.

Upacara ini dilakukan bila ada masyarakat yang ingin memiliki kayu wunglen tersebut. Untuk memiliki kayu tersebut harus sowan atau menghadap pada juru kunci makam. Kemudian matur atau mengatakan bahwa akan memboyong (membawa pulang) kayu wunglen. Kayu wunglen harus diuji dahulu, yakni dengan cara dimasukkan dalam segelas air putih, jika kayu tersebut langsung tenggelem berarti kayu wunglen boleh dibawa pulang.

Jika kayu tersebut tidak tenggelam berarti tidak dapat dibawa pulang, karena menurut juru kunci, hati orang yang ingin memiliki kayu wunglen tersebut belum benar-benar tulus dan bersih. Setelah kayu diuji dan dapat dibawa pulang maka kayu tersebut harus diganti dengan mahar/uang. 

Source http://web.unmetered.co.id/ http://web.unmetered.co.id/nilai-nilai-islam-dalam-upacara-tradisi/

Leave A Reply

Your email address will not be published.