Upacara Labuhan Parangkusumo Yogyakarta

0 345

Upacara Labuhan Parangkusumo Yogyakarta

Kata “labuh” artinya mirip kata “larung” yang bermakna membuang sesuatu ke dalam air baik sungai atau laut.

Upacara ini merupakan salah satu tradisi aktifitas memberi sesaji / persembahan kepada roh halus yang berkuasa di suatu tempat.  Tujuannya untuk keselamatan pribadi Sri Sultan kraton serta rakyat Yogyakarta. Sedangkan cara pemberian sesaji tergantung dari lokasi upacara Labuhan itu sendiri.

Upacara ini di lakukan di daerah gunung berapi, cara upacaranya yaitu dengan benda-benda sesaji diletakkan di lereng gunung di sisi tengah atau dalam bahasa Jawa-nya disebut Kendit. Di gunung Lawu, upacara ini dilakukan di desa Dlepih. Caranya dengan meletakkan semua sesaji di atas “sela gilang” atau meja yang terbuat dari batu.

Pada Mulanya kerabat Kraton Yogyakarta yang melakukan upacara Labuhan ini, sehari setelah Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Seiring perkembangan waktu, upacara ini dilakukan terus menerus setiap tahun memperingati upacara penobatan seorang Sultan.

Tempat dilaksanakannya pun hanya ada tiga yaitu di pantai Parangkusumo, Gunung Merapi serta gunung Lawu. Selain ketiga tempat tersebut, ditambah satu lokasi lagi di desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri.

Pemilihan tempat-tempat upacara ini sesuai dengan pertimbangan pada zaman dahulu dimana raja-raja Mataram, terutama Panembahan Senopati bertapa dan terkoneksi dengan “roh halus” di sana.

Muncul kepercayaan setiap raja yang berkuasa berkewajiban merawat relasi tersebut lewat sesaji.  Anggapan yang berkembang “roh-roh” tersebut berperan dalam pendirian kerajaan Mataram, semisal Ratu Kidul yang berkuasa di laut selatan atau Nyai Widononggo di Dlepih, Wonongiri dan sebagainya.

Persiapan upacara Labuhan dilakukan tiga hari sebelum tanggal pelaksanaan. Sedangkan rangkaian upacara itu sendiri terdiri atas empat tahap yaitu : pembuatan jladren (adonan) kue apam, pembuatan apam, upacara peringatan ulang tahun Sri Sultan HB di kraton Yogyakarta, serta upacara Labuhan.

Para puteri keraton membuat adonan kue, pembuatan ini disebut juga dengan ngemplek.. Apam sendiri terdiri atas dua jenis yaitu apam biasa dan apam Mustoko. Apam biasa dibuat sebanyak 240 buah lalu ditata di atas wadah bernama Nyiru. Sedangkan, apam Mustoko dicetak sebanyak 40 buah.

Ciri dari apam ini yaitu memiliki garis tengah sepanjang 20 cm atau satu jengkal tangan laki-laki dewasa. Tebalnya sekitar 5 cm. Karena ukuran yang panjang dan besar ini, bagian dalamnya sering masih mentah. Yang membuat lebih menarik karena adanya para puteri kraton pembuatnya harus sudah tua dan masih perawan.

Pada saat pelaksanaan upacara berlangsung biasanya anggota masyarakat datang yang disertai dengan membawa bunga tabur. Ada yang percaya bunga tabur itu berkhaziat menyembuhkan orang sakit dan bisa mengabulkan cita-cita.

Juru kunci Parangkusumo atau dikenal sebagai bapak Bekel Puraksolono mendoakan para peziarah tersebut sambil memutarkan bunga-bunga sebanyak tiga kali. Bunga-bunga yang dibawa lalu diletakkan di atas wadah yang disebut pedupaan. Setelah itu ,pada pagi harinya, tanggal 26 Bakda Mulud pukul 08.00 WIB, benda-benda itu diletakkan di sebuah wadah berbentuk rumah dan terbuat dari bambu yang disebut Jati Ngarang.

 

Source Upacara Labuhan Parangkusumo Yogyakarta sudegnet
Comments
Loading...