Upacara Dukutan Di Dusun Nglurah Tawangmangu Karanganyar

0 91

Upacara Dukutan Di Dusun Nglurah Tawangmangu Karanganyar

Gunung Lawu tidak hanya menawarkan keindahan alam saja. Kekayaan alam wilayah ini ternyata makin berwarna dengan keanekaragaman tradisi yang tumbuh dalam kehidupan warganya. Beberapa lokasi di lereng Gunung Lawu ternyata menyimpan tradisi dan juga upacara adat yang unik dan masih lestari hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi Dukutan yang rutin digelar warga Dusun Nglurah.

Salah satu tradisi warga lereng Gunung Lawu ini tepatnya digelar oleh warga Dusun Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar. Tradisi yang rutin digelar tiap Selasa Kliwon di wuku Dukut (kalender Jawa) hingga sekarang masih rutin digelar dengan melibatkan pemuda dari dua wilayah dusun, Nglurah Lor (Utara) dan Nglurah Kidul (Selatan).

Tradisi yang mendapatkan nama dari waktu penyelenggaraannya biasa digelar di situs Candi Menggung yang tak lain adalah pepunden Dusun Nglurah. Candi Menggung adalah situs yang dikramatkan oleh warga Nglurah yang percaya bahwa leluhur mereka, Kyai dan Nyai Menggung, bersemayam di pepunden itu.

Upacara adat Dukutan merupakan upacara bersih desa yang digelar sebagai simbol permohonan berkah dan juga ucapan syukur kepada Tuhan atas nikmat, perlindungan, dan ketentraman yang telah diberikan. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, dalam upacara bersih desa Dukutan, warga juga mempersiapkan berbagai sajian dari jagung sebagai sesaji dan juga hidangan bagi warga yang hadir dalam upacara adat Dukutan.

Keunikan dari upacara adat Dukutan adalah prosesi puncak acara yang berlangsung di pepunden desa. Sejak pagi hari dari jam 7 pagi warga dari dua wilayah dusun mulai berkumpul. Mereka yang terlibat dalam prosesi ini kebanyakan adalah pemuda yang telah dipilih dari wilayah Nglurah Lor dan Nglurah Kidul.

Prosesi diawali dengan kedatangan kedua rombongan pemuda. Masing-masing kelompok mendandani dirinya agar tampak lebih garang dari lawannya. Mereka akan dipertemukan pada sebuah area yang telah ditentukan.

Kedua kubu yang telah tersulut adrenalinnya itu kemudian saling ejek satu sama lain. Karena tradisi ini sudah dibuat sedemikian kolosalnya, untuk menghibur mereka yang hadir dan juga menurunkan tensi, hiburan berupa tarian dimasukan ke dalam arena.

Prosesi segera mencapai puncaknya ketika kedua kelompok diajak mengelilingi makam leluhur mereka sambil membawa keranjang berisi sajian yang telah disediakan tadi. Namun entah siapa yang memprovokasi, suasana berubah riuh ketika para pemuda dari dua wilayah tadi mulai saling melempar makanan dalam keranjang. Puncak acara Dukutan Dusun Nglurah yaitu tradisi Tawur Dukutan.

Tradisi tawuran hingga kini masih terpelihara ini konon berasal dari kisah bersatunya dua leluhur mereka . Dikenal dengan nama Naratoma Mengembara dengan Nyai Roso Putih. Naratoma yang tinggal di Nglurah Lor bertemu dengan Nyai Roso Putih dari Nglurah Kidul yang sakti. Pertemuan itu justru berlanjut dalam kekisruhan dan adu kekuatan hingga melibatkan warga dari dua wilayah.

Kisah pertempuran kedua sosok itu akhirnya berakhir bahagia seperti yang tampak dalam tradisi Tawur Dukutan. Yang tidak pernah berlangsung lama dan selalu diakhiri dengan tawa lepas seusai tawuran. Naratoma dan Nyai Roso Putih justru saling mencintai. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia bersama para warga dari dua dusun.

Akhir bahagia dari kisah penyatuan dua wilayah di Dusun Nglurah berlanjut hingga malam harinya. Hiburan wayang kulit semalam suntuk menjadi sajian rutin seusai tradisi yang berlangsung.  Tradisi ini berlangsung sekali dalam tujuh bulan.

Source http://chic-id.com/ http://chic-id.com/upacara-adat-dukutan-dusun-nglurah-tawangmangu/
Comments
Loading...