Upacara Daur Hidup dalam Fase Pertumbuhan – Perkawinan dalam Masyarakat Jawa

0 48

Upacara Daur Hidup dalam Fase Pertumbuhan – Perkawinan dalam Masyarakat Jawa

Ada banyak macam upacara adat di Jawa. Sebagian besar lazim dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun terkadang kita masyarakat masih merasa asing dan tidak begitu paham dengan makna dan proses acaranya sendiri, serta apa saja manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya, kita sebagai manusia Jawa adalah produk peradaban simbolis, yaitu makhluk yang berinteraksi, berkomunikasi, dan beraktivitas dengan menggunakan simbol-simbol yang diberi makna. Maka, makna dan simbol-simbol tersebut memungkinkan manusia untuk melanjutkan tindakan dan interaksi sesama mereka. Kemudian makna dan simbol-simbol tersebut diinterpretasikan melalui proses berpikir yang dilanjutkan dengan tindakan dan interaksi lainnya sehingga menjadi sebuah pola kebiasaan dalam keseharian.

Pola-pola ke kebiasaan inilah yang akhirnya membentuk sebuah tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur kehidupan. Utamanya adalah interaksi manusia dengan Tuhan dan sesamanya dalam memaknai tiga fase kehidupan yang paling penting, yaitu prosesi kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Masyarakat Jawa, dari dulu telah dikenal luas sebagai masyarakat yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dari nenek moyangnya. Tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur kebudayaan tersebut diwariskan secara turun temurun oleh tiap generasi ke generasi berikutnya, dengan keraton sebagai pusat pedoman-nya, baik di Yogyakarta maupun Surakarta. Di Keraton Yogyakarta sendiri, berbagai macam hal tersebut diejawantahkan menjadi sebuah acara-acara khusus yang seringkali dikenal banyak orang dengan istilah upacara tradisi. Upacara tradisi sendiri adalah upacara yang penuh dengan makna simbolik yang bisa mencerminkan nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat.

Ada beberapa bentuk upacara tradisi yang saat ini diselenggarakan oleh masyarakat. Baik masyarakat di dalam keraton maupun masyarakat Jawa secara luas. Namun, biasanya upacara tradisi yang paling sering kita jumpai adalah yang berkaitan dengan upacara daur hidup seseorang. Upacara daur hidup adalah bentuk upacara adat sebagai wujud realisasi dari penghayatan manusia terkait dengan tiga fase penting kehidupannya. Kelahiran, perkawinan, dan kematian. Upacara tradisi dari proses kehamilan sampai dengan kematian dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, diantaranya masa kehamilan itu sendiri, kelahiran, masa anak-anak, remaja, perkawinan, dan kematian.

Dalam perkembangan kehidupan saat ini, upacara tradisi ini mulai ditinggalkan atau dikurangi kelengkapannya terkait dengan faktor ekonomi ataupun kepraktisan. Karena memang sebuah proses upacara tradisi selain sarat dengan komitmen dan keteguhan hati untuk melaksanakannya, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam persiapan dan penyelenggaran. Satu hal yang patut disyukuri bahwa proses yang dilakukan di dalam keraton masih memegang teguh prinsip-prinsip detail upacaranya, dalam pengertian diselenggarakan secara lengkap dan resmi.

Upacara Daur Hidup dalam Fase Pertumbuhan – Perkawinan

Setelah itu apabila sang anak sudah mulai mengalami pertumbuhan menjadi dewasa, upacara tradisi juga masih dilakukan. Dimulai dari Tedhak Siten, yaitu upacara selamatan pada saat anak pertama kali menginjakkan kakinya ke tanah (usia sekitar 7-9 bulan). Nyapih, selamatan saat sang Ibu berhenti menyusui anaknya diganti dengan disapih. Neton, selamatan yang diadakan bertepatan dengan hari dan pasaran anak tersebut. Gaulan, selamatan yang dilakukan saat sang anak tumbuh gigi untuk pertama kali. Nyetahuni, selamatan saat sang anak berusia tepat 1 tahun. Supitan, yaitu upacara khitanan untuk anak laki-laki. Tetesan, upacara serupa untuk anak perempuan, sebagai penanda peralihan masa kanak-kanak menuju masa remaja. Tarapan, upacara untuk anak perempuan yang menstruasi untuk pertama kali. Semua upacara ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan bagi sang anak dalam mengarungi berbagai dinamika hidup nantinya. Terutama saat mengalami tumbuh kembang di dalam kehidupan.

Setelah sang anak tumbuh dewasa dan menemukan jodohnya, mereka akan menjalani perkawinan. Upacara tradisi perkawinan Jawa menjadi salah satu upacara tradisi yang hingga kini masih banyak dilestarikan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Dapat dikatakan bahwa masa perkawinan adalah masa terpenting dalam siklus hidup seseorang karena fase ini adalah pilihannya sendiri yang lahir melalui proses pendewasaan dan kematangan, sedangkan proses kelahiran dan kematian adalah suatu hal yang sudah bisa dipastikan tanpa kehendak manusia. Di dalam fase ini jugalah, seseorang benar-benar mengalami peralihan dari tahap perkembangan remaja menjadi berkeluarga. Dalam tradisi Jawa, fase perkawinan mengenal tiga tahapan besar. Tahap pra-nikah, tahap pernikahan, dan tahap paska-nikah.

Source https://kratonjogja.id/ https://kratonjogja.id/hajad-dalem/10/upacara-daur-hidup-masyarakat-jawa
Comments
Loading...