Upacara Daur Hidup dalam Fase Kematiandalam Mayarakat Jawa

0 141

Upacara Daur Hidup dalam Fase Kematiandalam Mayarakat Jawa

Ada banyak macam upacara adat di Jawa. Sebagian besar lazim dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun terkadang kita masyarakat masih merasa asing dan tidak begitu paham dengan makna dan proses acaranya sendiri, serta apa saja manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya, kita sebagai manusia Jawa adalah produk peradaban simbolis, yaitu makhluk yang berinteraksi, berkomunikasi, dan beraktivitas dengan menggunakan simbol-simbol yang diberi makna. Maka, makna dan simbol-simbol tersebut memungkinkan manusia untuk melanjutkan tindakan dan interaksi sesama mereka. Kemudian makna dan simbol-simbol tersebut diinterpretasikan melalui proses berpikir yang dilanjutkan dengan tindakan dan interaksi lainnya sehingga menjadi sebuah pola kebiasaan dalam keseharian.

Pola-pola ke kebiasaan inilah yang akhirnya membentuk sebuah tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur kehidupan. Utamanya adalah interaksi manusia dengan Tuhan dan sesamanya dalam memaknai tiga fase kehidupan yang paling penting, yaitu prosesi kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Masyarakat Jawa, dari dulu telah dikenal luas sebagai masyarakat yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dari nenek moyangnya. Tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur kebudayaan tersebut diwariskan secara turun temurun oleh tiap generasi ke generasi berikutnya, dengan keraton sebagai pusat pedoman-nya, baik di Yogyakarta maupun Surakarta. Di Keraton Yogyakarta sendiri, berbagai macam hal tersebut diejawantahkan menjadi sebuah acara-acara khusus yang seringkali dikenal banyak orang dengan istilah upacara tradisi. Upacara tradisi sendiri adalah upacara yang penuh dengan makna simbolik yang bisa mencerminkan nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat.

Ada beberapa bentuk upacara tradisi yang saat ini diselenggarakan oleh masyarakat. Baik masyarakat di dalam keraton maupun masyarakat Jawa secara luas. Namun, biasanya upacara tradisi yang paling sering kita jumpai adalah yang berkaitan dengan upacara daur hidup seseorang. Upacara daur hidup adalah bentuk upacara adat sebagai wujud realisasi dari penghayatan manusia terkait dengan tiga fase penting kehidupannya. Kelahiran, perkawinan, dan kematian. Upacara tradisi dari proses kehamilan sampai dengan kematian dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, diantaranya masa kehamilan itu sendiri, kelahiran, masa anak-anak, remaja, perkawinan, dan kematian.

Dalam perkembangan kehidupan saat ini, upacara tradisi ini mulai ditinggalkan atau dikurangi kelengkapannya terkait dengan faktor ekonomi ataupun kepraktisan. Karena memang sebuah proses upacara tradisi selain sarat dengan komitmen dan keteguhan hati untuk melaksanakannya, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam persiapan dan penyelenggaran. Satu hal yang patut disyukuri bahwa proses yang dilakukan di dalam keraton masih memegang teguh prinsip-prinsip detail upacaranya, dalam pengertian diselenggarakan secara lengkap dan resmi.

Upacara Daur Hidup dalam Fase Kematian

Fase terakhir adalah kematian, yaitu proses meninggalnya manusia setelah melalui banyak tahapan dalam kehidupan dan mengalami tugas-tugas perkembangan sedari lahir, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa, hingga tua. Dalam hal ini, upacara tradisi Jawa untuk memperingati kematian dapat diurutkan ke dalam berbagai prosesi. Lelayu(memberitakan kematian), Ngrukti Laya (mengurus jenazah dari memandikan, memberangkatkan jenazah, kegiatan sepanjang menuju makam, sampai doa di pemakaman), termasuk urusan administrasi yang berkaitan dengan kematian. Lalu ada juga upacara ritual kematian yang meliputi Selametan Surtanah atau Bedhah Bumi (upacara mempersiapkan liang kubur), Telung dina (selamatan hari ketiga setelah kematian), Pitung dina (selamatan hari ketujuh setelah kematian), Patang puluh dina (selamatan hari keempat puluh setelah kematian), Satus dina (selamatan seratus harian setelah kematian), Pendhak pisan (selamatan satu tahun sejak kematian), Pendhak pindho (selamatan dua tahun sejak kematian), dan Sewu dina (selamatan seribu hari setelah kematian).

Penting bagi generasi saat ini untuk kembali mempelajari dan melestarikan upacara-upacara tradisi yang berkaitan dengan daur hidup manusia. Cara terbaik agar warisan budaya yang sudah bagus ini tetap terjaga adalah dengan menerapkannya. Dengan demikian maka nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap mampu memberi makna bagi setiap manusia dalam kehidupannya, sehingga manusia sebagai makhluk sosial dan berbudaya, tidak akan mudah kehilangan simbol-simbol warisan tradisi dari nenek moyangnya dalam berinteraksi dan memaknai hidup. Sebab dengan simbol-simbol itulah, di mana perwujudannya dapat berupa selamatan ataupun doa-doa, mampu menjadi perantara manusia dengan leluhur dan Tuhannya.

Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat yang serba modern saat ini, manusia dituntut untuk hidup serba cepat, praktis, dan larut pada kesibukan masing-masing sehingga semua tindakannya akan selalu mengarah pada sifat individualis yang sangat tinggi. Hal ini dirasa dapat membuat solidaritas dan fungsi sosialnya manusia makin memudar. Pelestarian upacara-upacara tradisi yang bersifat kolektif ini diharapkan mampu menjadi simpul sosial dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat sehingga harmoni antar manusia dapat terus terjaga.

Source https://kratonjogja.id/ https://kratonjogja.id/hajad-dalem/10/upacara-daur-hidup-masyarakat-jawa
Comments
Loading...