Upacara Daur Hidup dalam Fase Kehamilan – Persalinan Masyarakat Jawa

0 108

Upacara Daur Hidup dalam Fase Kehamilan – Persalinan Masyarakat Jawa

Ada banyak macam upacara adat di Jawa. Sebagian besar lazim dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun terkadang kita masyarakat masih merasa asing dan tidak begitu paham dengan makna dan proses acaranya sendiri, serta apa saja manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya, kita sebagai manusia Jawa adalah produk peradaban simbolis, yaitu makhluk yang berinteraksi, berkomunikasi, dan beraktivitas dengan menggunakan simbol-simbol yang diberi makna. Maka, makna dan simbol-simbol tersebut memungkinkan manusia untuk melanjutkan tindakan dan interaksi sesama mereka. Kemudian makna dan simbol-simbol tersebut diinterpretasikan melalui proses berpikir yang dilanjutkan dengan tindakan dan interaksi lainnya sehingga menjadi sebuah pola kebiasaan dalam keseharian.

Pola-pola ke kebiasaan inilah yang akhirnya membentuk sebuah tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur kehidupan. Utamanya adalah interaksi manusia dengan Tuhan dan sesamanya dalam memaknai tiga fase kehidupan yang paling penting, yaitu prosesi kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Masyarakat Jawa, dari dulu telah dikenal luas sebagai masyarakat yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dari nenek moyangnya. Tradisi yang sarat dengan nilai-nilai luhur kebudayaan tersebut diwariskan secara turun temurun oleh tiap generasi ke generasi berikutnya, dengan keraton sebagai pusat pedoman-nya, baik di Yogyakarta maupun Surakarta. Di Keraton Yogyakarta sendiri, berbagai macam hal tersebut diejawantahkan menjadi sebuah acara-acara khusus yang seringkali dikenal banyak orang dengan istilah upacara tradisi. Upacara tradisi sendiri adalah upacara yang penuh dengan makna simbolik yang bisa mencerminkan nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat.

Ada beberapa bentuk upacara tradisi yang saat ini diselenggarakan oleh masyarakat. Baik masyarakat di dalam keraton maupun masyarakat Jawa secara luas. Namun, biasanya upacara tradisi yang paling sering kita jumpai adalah yang berkaitan dengan upacara daur hidup seseorang. Upacara daur hidup adalah bentuk upacara adat sebagai wujud realisasi dari penghayatan manusia terkait dengan tiga fase penting kehidupannya. Kelahiran, perkawinan, dan kematian. Upacara tradisi dari proses kehamilan sampai dengan kematian dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, diantaranya masa kehamilan itu sendiri, kelahiran, masa anak-anak, remaja, perkawinan, dan kematian.

Dalam perkembangan kehidupan saat ini, upacara tradisi ini mulai ditinggalkan atau dikurangi kelengkapannya terkait dengan faktor ekonomi ataupun kepraktisan. Karena memang sebuah proses upacara tradisi selain sarat dengan komitmen dan keteguhan hati untuk melaksanakannya, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam persiapan dan penyelenggaran. Satu hal yang patut disyukuri bahwa proses yang dilakukan di dalam keraton masih memegang teguh prinsip-prinsip detail upacaranya, dalam pengertian diselenggarakan secara lengkap dan resmi.

Upacara Daur Hidup dalam Fase Kehamilan – Persalinan

Upacara daur hidup sendiri, dilaksanakan sejak ada tanda-tanda kehamilan sampai manusia meninggal dunia dengan jangka waktu tertentu. Di dalam masa kehamilan sendiri ada berbagai jenis upacara tradisi yang harus dilakukan, yaitu mulai dari upacara Ngabor-abori. Upacara ini adalah sebuah peringatan atau Selamatan bulan pertama yang biasanya dilakukan dengan wujud membuat jenang sungsum.

Setelah itu berturut-turut di bulan berikutnya masih terdapat upacara tradisi lain seperti Ngloroni (dua bulanan), Neloni (tiga bulanan), Ngapati (empat bulanan), Nglimani (lima bulanan), Mitoni (tujuh bulanan), Ngwoloni (delapan bulanan), dan Nyangani (sembilan bulanan), dimana masing-masing upacara membutuhkan persiapan dan ubarampe(kelengkapan upacara) yang berbeda-beda.

Selanjutnya adalah masa persalinan. Upacara tradisi untuk menyongsong masa kelahiran bayi ini juga diselenggarakan ke dalam beberapa tahapan. Mulai dari Mendhem ari-ari, yaitu proses perawatan dan penguburan ari-ari bayi. Brokohan, yaitu selamatan yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus pemberitahuan kepada sanak keluarga dan para tetangga bahwa bayi telah lahir dan selamat. Sepasaran, yaitu upacara untuk memperingati bahwa bayi yang lahir telah berusia 5 hari (sepasar). Puputan, yaitu selamatan saat tali pusar bayi sudah putus (usia antara 10 hari sampai dua minggu). Terakhir, Selapanan, yaitu selamatan saat usia bayi 35 hari.

Source https://kratonjogja.id https://kratonjogja.id/hajad-dalem/10/upacara-daur-hidup-masyarakat-jawa
Comments
Loading...