Upacara Bersih Sendang Sinongko Klaten

0 217

Upacara Bersih Sendang Sinongko Klaten

Upacara bersih Sendang Sinongko dilaksanakan di desa Pokak, kec. Ceper, kab Klaten. Menurut cerita, dahulu terdapat sebuah Kadipaten yang berbatasan dengan Kadipaten Gunung Merapi di sebelah barat dan Kadipaten Gunung Lawu di sebelah timur.

Rajanya bernama Adipati Ki Singodrono dengan Patihnya Ki Eropoko. Keduanya bijaksana, tekun menggeluti ilmu kebatinan dan kamuksan. Ki Eropoko mempunyai putri bernama Mas Ajeng Lulud yang cantik parasnya dan menyukai segala tari-tarian dan karawitan.

Pimpinan wadyobolo di kadipaten tersebut menjadi bawahannya Nyi Roro Kidul. Setiap tahunnya di Kadipaten Gunung Merapi menyerahkan pisungsung manusia, sedang di Kadipaten Gunung Lawu berwujud hewan. Ki Singodrono dan Ki eropoko tidak setuju dengan korban manusia.

Maka menyebabkan keduanya muksa, Ki Singodrono muksa di Sendang Barat dan Ki Eropoko muksa di Sendang Timur. Pada suatu hari ada seorang petani mendengar suara “He, ki petani agar hasil sawahmu banyak/melimpah dan cukup untuk hidup sekeluarga dan dapat sejahtera. Nanti setelah panen hendaknya mengadakan sesaji di sendang ini. Berwujud nasi tumpeng dengan memotong kambing lalu dimasak dengan bumbu becek dan minumannya dawet lalu dipisung-pisungkan kepada Nyai Roro Kidul seperti Kadipaten Gunung Lawu”.

Setelah panen tepatnya pada waktu hari Jumat Wage diadakan sesaji seperti apa yang telah ia dengar. Lalu tradisi ini berjalan turun temurun. Dimulai pada saat petani tadi bermimpi untuk mengadakan syukuran sesuai cerita yang berkembang dan telah diyakini oleh masyarakat.

Menjadi suatu kepercayaan masyarakat Desa Pokak Kecamatan Ceper. Pada perkembangannya bukan dari Desa Pokak saja namun masyarakat pada umumnya ikut dalam kegiatan bersih sendang dimaksud. Masyarakat Desa Pokak merayakan ritual Bersih Sendang sebagai ungkapan rasa syukur atas semua rejeki yang telah dilimpahkan. Dengan diwujudkan dengan pesta sesaji dalam bentuk nasi tumpeng dan minuman dawet dengan memotong kambing sebagai persembahan.

Pemotongan kambing dilakukan di bawah pohon karet yang umurnya telah ratusan tahun dan memakai alas pelataran akar pohon, sesuatu yang di luar jangkauan manusia dan seakan tidak wajar bahwa darah yang keluar dan mengucur di pelataran akar karet tersebut seakan hilang dan tidak berbekas, lenyap begitu saja, padahal kambing yang dipotong tidak kurang dari 100 ekor kambing dan berjenis kelamin laki-laki. Pada malam sebelum pemotongan kambing diadakan tahlil di pelataran sekitar sendang.

Source https://nonobudparpora.wordpress.com/ https://nonobudparpora.wordpress.com/yaaqowiyuu/
Comments
Loading...