Upacara Bersih Desa Tanjungsari Klaten

0 202

Upacara Bersih Desa Tanjungsari Klaten

Upacara bersih desa Tanjungsari dilaksanakan di desa Ceper, kec. Ceper, Kabupaten Klaten. Pada waktu pecahnya kerajaan Majapahit ada 2 (dua) orang putri kerajaan yang bernama Roro Tanjungsari dan Roro Payung Gilap yang lolos dari kerajaan dan tersesat sampai di sebuah desa yang masih berupa hutan.

Karena sedih dua putri tersebut menangis terus menerus dan tidak makan minum lalu kedua putri tersebut hilang bersama raganya (muksa). Dengan hilangnya kedua putri di tempat itu timbullah pohon Dlimo, sedang buahnya setelah masak seperti emas maka desa tersebut diberi nama Dlimas.

Masyarakat di Desa Dlimas pada waktu itu hidup serba kekurangan dan dapat diibaratkan sehari bisa makan, tiga hari tidak bisa makan. Pada suatu hari ada salah satu penduduk yang mendapat ilham apabila ingin kehidupannya menjadi baik maka pohon Dlimo tersebut harus dirawat (dipelihara).

Setelah pohon tersebut dipelihara dengan baik ternyata kehidupan masyarakat di Desa Dlimas menjadi baik. Setelah pohon Dlimo itu mati di tempat tersebut ditanami pohon Tanjung dan di dekat pohon Tanjung dibuat dua arca yaitu Tanjungsari dan Payung Gilap.

Dengan perubahan nasib/kehidupan masyarakat Desa Dlimas dari serba kekurangan menjadi serba kelebihan. Maka timbullah kepercayaan pada tiap-tiap bulan Syura yang jatuh pada hari Jumat Wage diadakan upacara selamatan dan Tayuban. Dilakukan setelah sholat Jum’at dengan cara para penduduk membawa hidangan/ambeng dan dibawa di suatu tempat di bawah pohon Tanjung.

Setelah upacara selamatan selsai maka dilanjutkan dengan upacara Tayuban/Janggrungan. Upacara ini diberi nama Tanjungsari/Tanjungsaren karena dilakukan di bawah pohon Tanjung. Sedang upacara Tayuban (Janggrungan) dilakukan karena kedua putri tersebut pada waktu di Kraton kesenangannya menari Srimpi.

Tari Tayub di Dlimas ini sangat berlainan karena sifatnya upacara suci. Penari ini dilakukan putra dan putri mula-mula suami istri. Perkembangan sekarang pada waktu upacara si istri tidak datang lagi mengingat di rumah banyak tamu yang datang. Upacara tersebut diteruskan malam-malam berikutnya dengan pertunjukan ketoprak, wayang orang, wayang kulit, dan lain-lain.

Banyak masyarakat dari daerah lain yang berdatangan untuk berjualan, mendirikan stand kerajinan, permainan anak-anak dan lain-lain. Sehingga terwujud suatu pasar malam yang berlangsung beberapa hari. Upacara tradisional Tanjungsari terus berkembang dan pengunjungnya bertambah banyak. Upacara ini sudah menjadi kepercayaan penduduk Dlimas.

Source https://nonobudparpora.wordpress.com/ https://nonobudparpora.wordpress.com/yaaqowiyuu/
Comments
Loading...