budayajawa.id

Upacara Adat Suran Jomboleko Karanganyar

0 12

Upacara Adat Suran Jomboleko Karanganyar

Setiap pergantian tahun Jawa. Pada awal bulan Suro yaitu tanggal 1 s/d 3 Suro masyarakat mengadakan kegitana ritual di Punden Jombaleko. Ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan 3 hari berturut-turut oleh masyarakat Dukuh Ngledok, Ngablak dan Talpitu.

Pada malam harinya juga diadakan tirakatan sebulan penuh yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan para Peziarah dari luar daerah.  Jalanya Upacara Adat Suran :

  • Sore hari menjelang waktu Magrib pelakasanaan ritual. Tokoh masayarakat dan Juru Kunci telah menyanggarkan kendi berjumlah tujuh (7) yang berisi air sumur setempat untuk di semayamkan di makam Arya Kusuma.
  • Pagi harinya warga telah kambing di area punden. Hewan yang di sembelih tidak boleh cacat dan harus Kambing kendit yaitu berbulu hitam dan begaris putih di badannya. Masakan yang untuk sesaji tidak boleh di cicipi dan yang masak tidak boleh dalam keadaan datang bulan (menstruasi).
  • Siang hari sekitar jam 10.00 WIB. Masyarakat berbondong-bondong datang di tempat dengan membawa sesaji komplit yang diletakakan dalam encek ( Jawa : anyaman yang dibuat dari bambu)
  • Ritual Tumuruning Toya Wening yaitu air kendi yang berjumlah tujuh yang mempunyai makna sendiri-sendiri untuk dibagikan kepada masyarakat. Air tersebut membawa berkah dan dijauhkan dari bencana. Kemudian dilakukan Doa bersama dipimpin oleh Kepala Dusun setempat.
  • Setelah selesai do’a, makanan kenduri dibagi-bagi termasuk kepada peziarah yang datang untuk dimakan bersama-sama. Sebagai penutup, biasanya dilanjutkan dengan sebaran Udhik-udhik yang diperebutkan oleh masyarakat yang datang, makna yang tersirat semoga masyarakata diberikan rejeki yang melimpah.

Pelaksanaan Upacara adat biasanya di dukung oleh para budayawan, Pametri Budaya, HARPI Melati Karangpandan. Pemerintah setempat dan dilakukan Kirab Prajurit Majapahit atau Arya Kuisuman dengan Pakaian Ngliga dan Senjata Bambu Runcing.

Menurut sesepuh dusun, tempat tersebut dahulu adalah tempat untuk persembunyian masyarakat setempat karena kedatangan para penjajah Belanda yang sampai di wilayah Karangpandan dan Matesih. Masyarakat merasa di lindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa pada waktu itu.

Maka oleh penduduk setempat sampai sekarang punden Jambaleko masih keramat dan dianggap membawa berkah. Sehingga banyak peziarah yang datang baik dari daerah Karanganyar sendiri maupun dari luar daerah, bahkan dari luar pulau Jawa juga ada yang berziarah kemakam ini.

Source http://tradisibudaya.blogspot.co.id/ http://tradisibudaya.blogspot.co.id/2012/11/upacara-adat-suran-jomboleka.html
Comments
Loading...