budayajawa.id

Upacara Adat Rokat Disa “Ju’ Kae”

0 25

Upacara Rokat Disa

Upacara Rokat Disa (ruwat desa, Jw) merupakan peristiwa adat yang secara tradisional terjadi turun temurun di sebuah desa. Hal ini menunjukkan perhatian masyarakat setempat terhadap desanya sebagai bentuk usaha untuk memberikan nilai agara desanya hidup makmur, pertanian subur, tentram, aman dan mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.

Rokat Disa, terjadi konon sebelum Islam masuk di desa itu, sehingga pemahaman dan peristiwa ritualnya cenderung menggunakan faham animisme. Namun dalam perkembangannya terjadi perubahan dengan bukti yang awalnya menggunakan mantra-mantra dan pada peristiwa selanjutnya unsur-unsur (baca; bacaan-bacaan) Islam mulai dimasukkan.

Dalam tulisan kali ini, Lontar Madura, menurunkan peristiwa Rokat Disa yang terjadi di dusun atau Kampong Tenggina, Desa Salopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Madura Bagi masyarakat Salopeng (sebuah pesisir yang terkenal sebagai lokasi wisata alam yang terkenal dengan bukit pasirnya), menyelenggarakan Rokat Disa merupakan “kewajiban” untuk menghormati sesepuh pendahulunya yang telah memberi “kehidupan” bagi mereka. Upcara ini dilaksanakan biasanya ketika musim hujan belum juga turun, sedang kehidupan pertanian yang menjadi tonggak kehidupan mereka surut.

Dalam kondisi inilah upacara Rokat Disa dilakukan. Pelaksanaan prosesi Rokat Disa bertempat di komplek kuburan yang mereka keramatkan yaitu Jhu’ Kae (Bhuju’  Kae), yang kemudian disebut Rokat Jhu’ Kae). Namun disayangkan, ketika Lontar Madura konfirmasi pada salah seorang tokoh setempat, nama asli dari Jhu’ Kae tersebut, adalah Kae (Kiai) Agung Candra seorang tokoh yang dikeramatkan. Dialah salah satu leluhur mereka yang disebut-sebut sebagai wali atau ulama.

Upcara Rokat Jhu’ Kae pada dasarnya untuk meminta perlindungan pada roh-roh leluhur nenek moyang mereka agar pendudukan desa selamat dan terhindar dari musibah marabahaya, serta mata pencaharian dan hasil tani mereka berhasil melimpah ruwah.

Rokat Jhu’ Kae yang dilaksanakan setiap tahun itu, dilakukan jatuh sesuai  kalender Jawa  atau tepat pada hari Jum’at Legi dan dilakukan selama tiga kali (setiap Jum’at Legi). Sedang prosesi upacara dilakukan pada saat senja menjelang malam, yaitu sesudah sholat Maghrib, dan pelaksaan berikutnya dilakukan pada sore hari atau setelah sholat Ashar. Menurut mereka pada hari itu merupakan hari yang sakral untuk mengirim doa-doa kepada leluhurnya.

Disekitar Bhuju’  tersebut terdapat terdapat peninggalan atau buah karya Kiai Agung Candra, yaitu disebelah timur Bhuju’  terdapat sebuah yang kemudian disebut  Soro’, dan sampai saat ini dipercaya oleh masyarakat setempat, airnya sebagai media penyembuh, khususnya pada hewan ternak. Dan disebelah utaranya tedapat langgar (surau) dan dhangdhang (genting air) yang beralaskan hamparan batu besar, yang digunakan sebagai tempat whudu’ Kiai Agung Candra serta disebelah selatan terdapat sumber air yang disebut-sebut sebagai Somber Cottho’, yang hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai kebutuhan air sehari-hari.

Prosesi Rokatt Ju’ Kae dipimpin oleh salah seorang sesepun kampung tersebut yang bertemnpat tinggal tidak jauh dari Bhuju’ , yang konon masih menjadi kerabat dekat dari keturunan Ju’ Kae. Dialah yang paling berperan dalam pelaksanaan prosesi upacara yang tentu dibantu oleh sesepuh kampung yang lain.

Sebagai awal acara dimulai dengan mengaji (membaca ayat uci Al-Qur’an) yang dipimpinan oleh seorang Kae (Keyae Ngaji) dan membacakan duwa pangrokat atau doa rokat. Pada saat seperti seluruh warga kampung berkumpul diarena sekitar bhuju’ seraya bersama-sama memohon kehadirfat Yang Maha Kuasa, sebagai awal pembuka upacara.

Sedang dalam perlengkapan upacara tersedia; nase’ rasol, yaitu nasi yang diletakkan diatas gaddangsekkol tono, yaitu kelapa yang dibakar kemudian diparut, dan beberapa butir telur rebus yang telah diiris. (penampan terbuat dari anyaman bambu) dan dialasi selembar daun pisang yang dipotong bulat. Diatasnya terdapat  sekkol tono, yaitu kelapa yang dibakar kemudian diparut, dan beberapa butir telur rebus yang telah diiris.

Selain itu tersedia kuwa patheh (sayur santan) serta segelas kopi, segelas teh, segelas poka’ (minuman yang terbuat dari gula aren, jahe dan serre), selain lembur, minuman terbuat parutan kepala dan gula aren (siwalan)

Sedang media yang lain berupa sebagai kelengkapan upacara terdiri dari:

  • Beras kunging dan arta’ koneng (jenis kacang-kacangan)
  • Dupa atau kemenyan Arab
  • Jajan genna’, yaitu aneka macam jajanan/kue yang harus dibeli di pasar dan diletakkan diatas ancak (sebuah penampan terbuat pelepah pohon pisang berbentuk segia empat), lalu dibeli tali antar ujungnya sebagai gantungan.
  • Aeng babur, yaitu bunga  dalam air sakobo’an (semangkok)

Source http://www.lontarmadura.com http://www.lontarmadura.com/upacara-adat-rokat-disa-ju-kae-2/
Comments
Loading...