Upacara Adat Rebutan Jembulan di Desa Pakah Ngawi

0 206

Upacara Adat Rebutan Jembulan di Desa Pakah Ngawi

Ada pemandangan berbeda di balai Desa Pakah, Kecamatan Mantingan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Ribuan orang berkumpul, sementara sejumlah polisi dan Linmas tampak berjaga. Bukan sedang ada aksi unjuk rasa, namun ada tradisi tahunan upacara adat Bersih Desa.

 

Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Jumat Legi. Ini karena upacara tersebut digelar rutin saban tahun tiap Jumat Legi dalam penanggalan Jawa. Upacara adat yang berlangsung turun temurun sejak puluhan tahun lalu ini adalah bentuk rasa syukur warga pada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen. Juga untuk tolak bala agar desa terhindar dari hama dan musibah. Lantas apa yang menarik dari upacara adat Bersih Desa ini? Dalam upacara ini, seluruh masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani menyumbangkan hasil panen.

 

Ada yang berupa sayur mayur, namun ada juga sudah sudah berbentuk makanan siap santap yang dibungkus dengan daun jati. Beberapa sumbangan ada yang ditancapkan dalam sebuah bilah bambu yang sudah dipotong kecil seukuran jari kelingking. Bilah bambu ini kemudian dihiasi dengan potongan kain kecil-kecil warna-warni. Warga setempat menyebutnya jembulan, mungkin warna-warni mirip umbul-umbul.

 

“Ada juga yang memberikan pakaian atau uang di jembulan. Agar lebih menarik saat rebutan nanti,” kata Raditya, warga setempat. Jembulan dan makanan tadi kemudian disetorkan kepada Pak RT.

Di sinilah jembulan disusun pada sebuah rangka kayu berbentuk limas. Jembulan lalu ditancapkan pada batang pohon pisang yang sudah dipasang di rangka kayu tadi. Setelah disusun, rangka tadi penuh dengan jembulan. Bila melihatnya, masyarakat Yogyakarta atau Solo bisa jadi akan menyebutnya sebagai gunungan.

 

Setiap RT akan menyumbangkan satu gunungan yang isinya hasil sumbangan warga. “Tahun ini ada 13 jembulan (gunungan) yang disumbangkan oleh masyarakat,” kata Kepala Desa Pakah, Laksono Widodo. Gunungan atau jembulan inilah yang nanti akan diperebutkan oleh seluruh warga.

 

Sekitar pukul 13.00, seluruh jembulan atau gunungan dari setiap RT sudah terkumpul di balai desa. Di situ, ribuan orang yang sekedar ingin menonton atau ikut berebut sudah menanti.

Sesepuh desa kemudian membacakan doa. Dan….. prittt! bak bunyi peluit, seluruh warga yang sudah berkumpul berebut isi gunungan tadi.

 

Mereka rela saling berdesakan dan saling dorong untuk berebut jembulan. Ada kepercayaan bahwa bila mendapatkan jembulan dan dibawa pulang, akan mendatangkan berkah yang melimpah. “Aku entuk duit seket ewu,” teriak seorang warga yang kegirangan karena mendapatkan jembulan yang ternyata terdapat amplop berisi uang Rp50 ribu.

 

Tak sampai lima menit, isi 13 gunungan langsung ludes. Namun upacara Bersih Desa tak selesai di situ. Masih ada suguhan wayang kulit semalam suntuk yang menghibur warga. Hiburan wayang kulit ini juga dipusatkan di balai desa.

 

Desa Pakah sendiri adalah sebuah desa kecil yang terletak di tengah-tengah areal hutan milik Perhutani. Sehingga mayoritas penduduknya adalah petani padi dan palawija. Desa ini juga dilintasi rel kereta api Jalur Utara.

Source Upacara Adat Rebutan Jembulan di Desa Pakah Ngawi Tribun Jogja
Comments
Loading...