budayajawa.id

Upacara Adat Puputan Di Pekalongan

0 6

Upacara Adat Puputan Di Pekalongan

Bagi masyarakat Jawa, kelahiran bayi adalah hal yang sakral sehingga sebaiknya diadakan upacara adat untuk menyambutnya. Setidaknya, ada dua upacara adat yang akan dilakukan yakni puputan dan selapanan.

Upacara puputan akan dilakukan saat tali pusar terlepas dari perut bayi. Sebagaimana diketahui, tali pusar bayi akan mengering dan terlepas dengan sendirinya. Pada saat inilah, upacara puputan atau yang dalam Bahasa Jawa disebut sebagai puput puser ini dilakukan. Tujuannya untuk memohon keselamatan bagi bayi yang besangkutan.

Kalau tradisi puputan dui Pekalongan  adalah upacara adat yang masih dilestarikan di sebagian besar Pulau Jawa, seperti halnya di Pekalongan. Puput berarti sudah tanggal tali pusarnya (bayi). Puputan berarti membuat selamatan ketika tali pusar bayi itu sudah tanggal. Tali pusar bayi yang sudah tanggal selanjutnya dimasukkan ke dalam tempat (seperti kendi) yang terbuat dari tanah liat, bersama ari-ari atau embing-embing. Ari-ari dipercaya sebagai teman si bayi atau bahkan sebagai saudara kembar si bayi. Oleh karena itu, kendi yang berisi ari-ari dan tali pusar bayi itu, benar-benar dijaga oleh orang tuanya. Tata cara penyimpanan ari-ari itu, terkesan sangat unik, yaitu dengan cara digantung di belakang rumah dan diberi lampu (dipercaya sebagai penerang untuk saudara si bayi), atau dengan cara mengubur kendi tersebut di halaman rumah.

Waktu putusnya tali pusar bayi tidaklah sama, ada yang 5 hari, 6 hari, 7 hari, bahkan ada yang lebih. Setelah tali pusar bayi putus, keluarga menyiapkan acara slametan untuk si bayi, dan memberikan nama untuk si bayi.

Source http://inirenitiyastika.blogspot.co.id/ http://inirenitiyastika.blogspot.co.id/2013/10/upacara-adat-di-pekalongan.html
Comments
Loading...