Upacara Adat Nyangku Panjalu, Media Syiar Prabu Borosngora

0 29

Upacara Adat Nyangku Panjalu, Media Syiar Prabu Borosngora

Upacara adat Nyangku adalah rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu penerusnya yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Upacara ini dilaksanakan setiap Senin atau Kamis terakhir Bulan Maulud (Rabiul Awal) oleh warga Panjalu.

Istilah Nyangku diduga berasal dari kata “yanko” yang dalam bahasa Arab berarti membersihkan. Di lidah orang Sunda, kata yanko perlahan berubah menjadi nyangku.

Makna dilaksanakannya upacara adat ini adalah untuk menghormati peninggalan pusaka leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa leluhur Panjalu yang telah mendirikan negara dan menyebarkan agama Islam di wilayah Galuh, Ciamis, khususnya di Kecamatan Panjalu.

Inti dalam ritual ini adalah pembersihan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh Kerajaan Panjalu. Untuk mempersiapkan bahan-bahan upacara, pada jaman dahulu, konon semua keluarga keturunan Panjalu akan menyediakan beras merah yang harus dikupas dengan tangan, bukan ditumbuk sebagaimana biasa. Beras merah ini digunakan sebagai bahan untuk membuat tumpeng dan sasajen. Pelaksanaan menguliti gabah merah ini dimulai sejak tanggal 1 Mulud, sampai dengan satu hari sebelum pelaksanaan upacara.

Ritual Nyangku diawali dengan berziarah ke makam raja di Situ Lengkong, Panjalu. Kemudian dilanjutkan dengan pencucian benda pusaka peninggalan raja. Upacara biasanya dimulai sekitar pukul 07.30 pagi dengan mengeluarkan benda-benda pusaka dari Bumi Alit dan diarak dengan cara digendong oleh keturunan raja Panjalu menuju Nusa Gede.

Rombongan pembawa benda pusaka akan mengenakan pakaian muslim dan pakaian adat Sunda. Setibanya di Situ Lengkong, dengan menggunakan perahu rombongan pembawa benda-benda pusaka menyeberang menuju Nusa Larang dengan dikawal oleh dua puluh perahu lainnya. Pusaka-pusaka kemudian diarak lagi menuju bangunan kecil yang ada di Nusa Larang. Pembawa pusaka diiringi dengan lantunan musik rebana, dan membacaakan shalawat menuju panggung utama tempat digelarnya membersihkan benda pusaka. Benda-benda pusaka itu kemudian diletakan di atas alas kasur yang khusus disediakan untuk upacara ini. Selanjutnya benda-benda pusaka satu persatu mulai dibuka dari kain putih pembungkusnya.

Setelah itu benda-benda pusaka segera dibersihkan dengan air yang berasal dari tujuh mata air ditambah jeruk nipis. Pencucian dimulai dengan pedang pusaka Prabu Sanghyang Borosngora dilanjutkan dengan pusaka-pusaka yang lain. Setelah selesai dicuci, benda-benda pusaka tersebut lalu diolesi dengan minyak kelapa yang dibuat khusus.  Selanjutnya dibungkus kembali dengan cara melilitkan janur lalu dibungkus lagi dengan tujuh lapis kain putih dan diikat dengan memakai tali dari benang boeh.

Setelah itu baru kemudian dikeringkan dengan asap kemenyan lalu diarak untuk disimpan kembali di Pasucian Bumi Alit.

Tradisi Nyangku ini konon telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora. Pada waktu itu, Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini sebagai salah satu media Syiar Islam bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya.

Hingga kini, ritual Nyangku menjadi tradisi dan kebudayaan kebanggaan masyarakat Panjalu. Bahkan, banyak orang yang dari luar kota sengaja datang untuk mengikuti prosesi ini. Pasucian Bumi Alit atau lebih sering disebut Bumi Alit saja, awalnya dibangun oleh Prabu Rahyang Kancana di Dayeuh Nagasari, Ciomas sebagai tempat penyimpanan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora. Bumi alit dalam Bahasa Sunda berarti “rumah kecil” .

Adapun beberapa benda pusaka yang disimpan di sini antara lain:

  1. Pedang yang konon berasal dari pemberian Baginda Ali RA, berfungsi sebagai alat untuk membela diri.
  2. Cis atau berupa tombak bermata dua (dwisula), berfungsi sebagai senjata dan kelengkapan dalam berkhutbah.
  3. Keris komando raja pegangan Raja Panjalu.
  4. Keris pegangan para Bupati Panjalu.
  5. Pancaworo, senjata perang pada zaman dahulu.
  6. Bangreng, senjata perang pada zaman dahulu.
  7. Gong kecil, untuk mengumpulkan rakyat pada zaman dahulu.
  8. Kujang peninggalan petapa sakti bernama Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana (Aki Garahang) yang diturunkan kepada para Raja Panjalu.

Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wirapraja (akhir abad XVII) bangunan Bumi Alit dipindahkan ke Dayeuh Panjalu seiring dengan perpindahan kediaman Bupati Tumenggung Wirapraja ke Dayeuh Panjalu. Pasucian Bumi Alit saat ini terletak di Kebon Alas, Alun-alun Panjalu.

Awalnya Pasucian Bumi Alit berupa taman berlumut yang dibatasi dengan batu-batu besar dan dikelilingi pohon Waregu. Bangunan Bumi Alit sendiri berbentuk mirip leuit atau lumbung padi tradisional masyarakat Sunda.

Rangkanya terbuat dari bambu dan kayu berukir dengan dinding terbuat dari bilik bambu sedangkan atapnya dari ijuk.

Source https://alampriangan.co https://alampriangan.com/upacara-adat-nyangku-panjalu-media/
Comments
Loading...