Upacara Adat Meron di Sukolilo Pati

0 804

Meron adalah suatu ritual atau tradisi masyarakat Pati tepatya di kecamatan Sukolilo yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Maulud, dengan tujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang menurut masyarakat setempat disebut Meron. Nasi tumpeng tersebut dibawa ke masjid Sukolilo sebagai kelengkapan upacara selamatan. Prosesi Meron tersebut diikuti oleh aneka ragam kesenian tradisional setempat. Setelah upacara selamatan selesai, nasi Meron kemudian dibagikan kepada seluruh pengunjung.

Asal – Usul Tradisi Meron
Di jaman pemerintahan Kesultanan Mataram (1889), desa Sukolilo berbentuk kademangan / kelurahan yg berada di bawah kekuasaan kadipaten / kabupaten Pati dengan bupati bernama Wasis Jayakusuma. Sedangkan yang menguasai daerah Sukolilo adalah Demang Sura Kerta. Perlu diketahui bahwa Demang Sura Kerta adalah termasuk salah satu dari 5 bersaudara. Mereka adalah
  1. Sura Kadam
  2. Sura Kerta ( demang / lurah di Sukolilo)
  3. Sura Yuda
  4. Sura Tirta
  5. Sura Wijaya

Mereka semua adalah laki-laki, jadi mereka juga disebut “PENDHAWA LIMA”. Mereka masih termasuk famili keluarga kerajaan Mataram. Adapun silsilahnya : Panembahan Senapati (Sultan Mataram) mempunyai anak bernama Pangeran Rangsang. Lalu Pangeran Rangsang menurunkan :

  1. Sindu Jaya (Di makamkan di pemakaman dukuh Kancil Wonokusumo, desa Sumbersoka, kecamatan Sukolilo.)
  2. Singa Prana (Di makamkan di pemakaman Guwa Manik Maya di desa Jatipohon kabupaten Grobogan.)
  3. Den Karsiyah (Di makamkan di pemakaman Talang Penganten, desa Tengahan Sukolilo.)
  4. Kulmak Singa Yuda Pana (Di makamkan di pemakaman Gedhong kurang lebih 100 meter dari Pundhen Talang Tumenggung di desa Pesanggrahan Sukolilo. PENDHAWA LIMA adalah anak dari
    Kulmak Singa Yuda Pana.)

Diceritakan, SURA KADAM (Pendhawa anak pertama) ingin mengembara di kerajaan Mataram untuk mencari pekerjaan yang layak, karena pekerjaannya di Sukolilo masih belum mapan dan sekaligus ingin melihat tanah kelahirannya. Setelah mendapat ijin dari saudara-saudaranya, Sura Kadam berangkat ke selatan menuju Kesultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat.

Setelah sampai di Kerajaan Mataram, kebetulan di sana sedang ada masalah. Gajah yang biasa dikendarai Sri Sultan lepas dan tidak bisa dikendalikan karena sang pawang dari gajah tersebut telah meninggal. Seluruh prajurit tidak ada yang bisa mengendalikannya dan mengembalikannya ke kandang. Bahkan banyak yang menjadi korban karenanya.

Saat itu, Sura Kadam sedang berteduh di bawah pohon beringin di alun-alun, dan sangat jelas terlihat si gajah yang sedang mengamuk. Para penduduk bahkan para prajurit lari kesana-kemari mencari tempat yang aman. Tiba-tiba, dengan langkah kaki yang berat, si gajah mendekati tempat Sura Kadam berteduh. Sura Kadam sudah merasakan bahaya yang mulai mendekatinya.

Tanpa perlawanan, Sura Kadam membiarkan dirinya dililit oleh belalai si gajah. Ajaibnya, bukannya menyerang/membantingnya, si gajah malah meletakkan Sura Kadam di punggungnya. Kemudian Sura Kadam mengarahkan si gajah kembali ke kandangnya dengan tenang.

Dengan gembira, Sri Sultan yang melihat kejadian aneh itu langsung memanggil Sura Kadam dan mengangkatnya menjadi pawang si gajah dengan sebutan Raden Ngabehi SURA KADAM. Diceritakan pula, Bupati Pati Wasis Jayakusuma, dianggap membangkang karena sudah lama dia tidak melapor dan menyerahkan upeti / pajak kepada Kerajaan Mataram.
Sri Sultan mengutus para panglima perangnya untuk menangkap Bupati Pati tersebut. Mereka adalah :

  1. Kanjeng Raden Tumenggung Cindhe Among (Cindhe Amoh)
  2. Kanjeng Raden Tumenggung Raja Maladi (Raja Mala)
  3. Kanjeng Raden Tumenggung Candhang Lawe (Raden Slender)
  4. Kanjeng Raden Tumenggung Samirana (Raden Sembrana)

Para prajurit termasuk Raden Ngabehi Sura Kadam yang sekaligus merangkap menjadi panglima perang menggrebek Kadipaten Pati dalam perang. Akhirnya mereka bisa menangkap Bupati Pati Wasis Jaya Kusuma dan Pati kembali menjadi satu dengan kerajaan Mataram lagi.

Sepulangnya dari perang di Pati, para prajurit beristirahat sementara di Sukolilo. Ketika itu berpapasan dengan hari Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 maulud. Sudah jadi tradisi di Ngayogyakarta bahwa setiap hari Maulid Nabi Muhammad SAW selalu diadakan tradisi SEKATEN.

Para prajurit yang sedang beristirahat di Sukolilo pun juga merayakan upacara Sekaten. Dan sejak saat itu desa Sukolilo telah diijinkan oleh Sri Sultan untuk mengadakan upacara yang sama seperti di Ngayogyakarta, namun namanya didanti dari Sekaten menjadi MERON

Makna Upacara Meron

Meron diadakan dengan tujuan untuk melestarikan tradisi budaya masyarakat secara turun temurun dalam memperingati kelahiran Nabi Agung Muhammad S.A.W. dan sebagai wahana untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu upacara Tradisi Meron diadakan untuk mewujudkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat karunia dan rizqi bagi masyarakat dan sebagai wahana untuk melaksanakan upacara tahunan (sedekah bumi), mengembangkan persatuan dan kesatuan antar warga masyarakat yang melaksanakan tradisi tersebut, mengembangkan tradisi dan budaya masyarakat secara turun temurun, Sebagai arena promosi pariwisata khususnya wisata ritual bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Pati.

Persepsi masyarakat terhadap tradisi upacara Meronan terdapat perbedaan, hal ini dipengaruhi oleh perbedaan pemahaman, pandangan, filsafat, tingkat pendidikan. Pada umumnya masyarakat memiliki persepsi yang positif terhadap keberadaan tradisi Meronan di Desa Sukolilo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Tradisi ini unik karena mengandung kegiatan serimonial dan memiliki kekuatan magis religius. Selain memiliki kekuatan magis juga dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan tontonan yang menarik bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Pati dan sekitarnya.

Tahapan Pelaksanaan Upacara Meron
  1. Pembentukan Panitia

    Sebelum pelaksanaan prosesi upacara tradisi Meron persiapan yang dilaksanakan oleh panitia adalah mengadakan rapat pembentukan panitia. Dalam rapat pembentukan panitia ini dibentuk ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan seksi-seksi antara lain : seksi acara, konsumsi, perlengkapan, akomodasi, seksi upacara (serimonial), seksi transfortasi, P3K (palang merah), keamanan, publikasi dan dokumentasi. Panitia ini dibentuk dengan harapan agar pelaksanaan dapat berjalan lancar sesuai dengan tugas-tugas kepanitiaan yang diembannya. Selain itu juga mempersiapkan pemberitahuan kemacetan jalan yang ditempatkan di pertigaan depan pasar Cengkalsewu dan dipertigaan jalan Getas yang menghubungkan jalur Grobogan Kudus dan juga mempersiapkan karcis untuk penarikan retribusi bagi para pedagang kaki lima.

  2. Penentuan waktu dan acara

    Setelah panitia terbentuk maka dilanjutkan penentuan waktu pelaksanaan. Setelah waktu pelaksanaan ditentukan kemudian menyusun berbagai mata acara yang akan digelar. Selain itu menentukan tamu undangan yang akan diundang. Penentuan waktu dan acara ini diagendakan oleh sekretaris dan seksi acara kemudian dilanjutkan publikasi kemasyarakat luas.

  3. Berziarah ke makam Tumenggung Cinde Among

    Kepala desa, perangkat desa, dan panitia penyelenggara Meron sehari menjelang diadakannya prosesi perayaan Meronan diadakan acara berziarah ke makam Tumenggung Cinde Among, dengan maksud memohon ijin, dan meminta do’a restu agar pelaksanaan Meronan dapat berjalan tanpa suatu aral apapun.

  4. Mempersiapakan berbagai uborampe (bahan sesaji) dan peralatan perlengkapan yang digunakan.

    Sebelum diadakan perayaan Meronan persiapan pertama yang dilaksanakan seperti (ancak, mustoko Meron / gunungan, bendera / umbul-umbul, dekorasi, panggung) dan berbagai kelengkapan lainnya. Uborampe sesaji yang pertama kali dipersiapkan adalah pembuatan ampyang. Pembuatan ampyang dilaksakan 36 (tiga puluh enam ) hari atau ” selapan dino”. Persiapan ini dilaksakan dengan alasan agar ampyang yang dibuat benar-banar berkualitas dan kering betul sehingga ampyang tersebut tidak “amem” atau “mlempem”. Dalam persiapan pertama ini para perangkat desa beserta isterinya/suaminya mengadakan tirakatan dan kendurian. Ancak badannya sudah dibuat dan digunakan secara turun temurun. Karena terbuat dari kayu jati sehingga ancak tersebut tahan lama, hanya saja yang dipersiapkan adalah perlengkapan yang lain seperti kertas krep, janur, berbagai aneka daun dan sebagainya. Mustoko Meron di persiapkan 7 hari menjelang pelaksanaan prosesi mustoko Meron ini dihiasi dengan jago yang terbuat dari kertas. Selain itu uborampe yang lain juga dipersiapkan untuk melengkapi dan memeriahkan suasana seperti umbul-umbul, bendera, dan beraneka ragam asesories, dan hiasan-hiasan baik yang terbuat dari kertas berwarna-warni juga janur.

    Untuk keperluan pentas seni dan prosesi upacara juga dilengkapi dengan panggung terbuka dan tratag baik yang diletakkan di depan rumah kepala desa maupun di halaman masjid Agung Sukolilo.

 

Source Upacara Adat Meron di Sukolilo Pati Upacara Adat Meron di Sukolilo Pati Upacara Adat Meron di Sukolilo Pati
Comments
Loading...