Upacara Adat dan Tradisi Suran Gunung Panggung

0 64

Upacara Adat dan Tradisi Suran Gunung Panggung

Malam 1 Sura dalam kalender Jawa atau 1 Muharam dalam kalender Islam menurut orang Jawa memiliki makna spiritual. Sebagai perwujudan perubahan waktu yang diyakini akan berdampak pada kehidupan manusia.

Orang Jawa mempunyai keyakinan bulan Sura merupakan dimensi waktu yang kurang baik untuk melakukan sesuatu “pekerjaan”. Oleh karena itu orang Jawa cenderung menghindarinya ketika akan melakukan “pekerjaan” terutama dalam melakukan kegiatan hajat khitanan dan perkawinan.

Sebaliknya pada bulan Sura orang Jawa dianjurkan untuk melakukan laku prihatin, terutama saat malam menjelang pergantian tahun. Bulan Sura dianggap sebagai waktu yang tepat untuk instropeksi diri atas segala perbuatan yang telah mereka lakukan.

Ketidakpastian hidup akibat faktor manusia dan faktor alam menjadi pertimbangan manusia untuk memohon kepada Tuhan agar di kehidupan yang akan datang menjadi lebih baik. Budaya ritual itu berjalan sesuai semangat zaman.

Orang Jawa sebagai bagian dari bangsa Indonesia sedang mengalami perubahan menuju era industrialisasi yang rasional dan efisien. Hal ini disebabkan orang Jawa masih memandang pada keseimbangan dunia mikrokosmos dan makrokosmos.

Sejalan dengan konsepsi ini orang Jawa memandang nilai-nilai spiritual pergantian tahun baru Jawa sebagai salah satu acuan dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Dalam menyiasati hidup orang Jawa cenderung melihat pada hitungan waktu, termasuk bagaimana memandang bulan Sura.

Perubahan tahun baru Jawa bagi kebanyakan orang Jawa merupakan saat yang kritis, oleh karena itu dipandang penting untuk melakukan laku spiritual dengan berbagai cara yang diyakini. Salah satunya tradisi adat Suran di Gunung Kidul.

Upacara Adat dan Tradisi Suran Gunung Panggung diselenggarakan oleh masyarakat desa Tambakromo dalam menyambut Tahun Baru Suro. Waktu pelaksanaannya pada siang hari tanggal satu Suro/Muharram. Tradisi ini diselenggarakan di dusu Klepu, desa Tambakromo, kecamatan Ponjong, kabupaten Gunungkidul.

Tradisi adat Suran berupa upacara bersih desa/meri dusun/rasulan di Gunung Panggang Tambakkrama Gunungkidul. Merupakan ekspresi sosial budaya masyarakat dalam upaya menjaga keseimbangan mikrokosmos dan makrokosmos.

Gunung Panggung adalah daerah perbatasan antara wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Di sana terdapat mitologi dan legenda tentang Gunung Panggung, Gua Paesan, Gunung Kelir, Watu Kenong, Sendang Sanga dan Sendang Panjangilang.

Untuk mengawali kenduri bersih desa dipentaskan tari tayub. Pada malam harinya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon pilihan seperti Wahyu Makuta Rama, Wahyu Cakraningrat, Rama Tambak.

Source http://arsip.tembi.net/ http://arsip.tembi.net/bale-dokumentasi-resensi-buku/suran-antara-kuasa-tradisi-dan-ekspresi-seni https://teamtouring.net/tradisi-tahunan-gunungkidul.html
Comments
Loading...