Tutunggulan Sebuah Kesenian Tradisional Cianjur

0 52

Tutungulan merupakan kesenian musik tradisional khas Sunda, Tutunggulan adalah bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh benturan antara lesung dan alu. Ketika keduanya dibenturkan dibagian tertentu. Maka akan menghasilkan bunyi tung, trok, dung, trok ataupun prek. Dengan irama dan ritme tertentu, Permainan yang biasanya dimainkan oleh beberapa orang Wanita ini akan menghasilkan musik yang semarak. Apalagi diiringi kawih-kawih yang dinyanyikan bersama oleh para pemainnya.

Tutunggulan sering terdengar pada saat-saat tertentu, seperti pada saat penyimpanan padi ke lumbung. Terkadang, tutunggulan sengaja dibunyikan dengan keras agar bisa terdengar dari jarak yang cukup jauh. Alat musik yang digunakan dalam kesenian ini tidak banyak. Cukup dengan menggunakan peralatan sederhana, yaitu: lisung (lesung), halu (alu), dan niru (tampi). Lesung yang terdapat di kalangan masyarakat Warungkondang sedikit khas dan unik karena masing-masing bagiannya mempunyai fungsi tersendiri. Bagian-bagian itu adalah: panyongsong (lubang kecil yang ada di bagian ekor lesung), pamebeukan (lubang kecil yang ada di bagian kepala lesung), pamoroyan (lubang yang terdapat pada badan lesung), dan hulu lesung (kepala lesung).

Awalnya, sebelum tutunggulan berkembang menjadi sebuah kesenian, ia berfungsi sebagai alat komunikasi. Fungsi utamanya adalah untuk memberitahukan kepada siapa saja yang mendengarnya bahwa di suatu tempat (asal suara tutunggulan) ada penghuninya. Kemudian, setelah menjadi sebuah kesenian pun, fungsi komunikasinya masih tetap ada, yaitu sebagai tanda untuk memberitahu bahwa seseorang sedang punya khajat dan atau untuk memberitahu bahwa calon pengantin laki-laki telah tiba. Dengan kata lain, Tutunggulan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai sarana hiburan.

Pemain dan Busana

 

Pemain tutunggulan semuanya perempuan. Mereka berjumlah 8 orang dengan rincian: 2 orang pemegang alu-indung yang bertugas sebagai angeran wiletan (keajegan ketukan); 1 orang pemegang alu-koprek yang bertugas memainkan ketukan; 1 orang pemegang alu-mamanis yang bertugas memberi ornamen pada alu-koprek, sehingga terdengar bersahutan; dan 2 orang pemegang alu-ngalima yang bertugas memainkan tabuhan lagu. Sedangkan, yang 2 orang lagi adalah sebagai pemegang niru. Adapun pakaian yang dikenakan adalah pakaian sehari-hari yang berupa: kain-kebaya, sinjang, dan tutup kepala (kerudung).

Nilai Budaya

Sebagaimana kesenian pada umumnya, kesenian tutunggulan jika dicermati secara mendalam juga tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi ada nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai itu antara lain adalah kegotongroyongan, ketertiban dan atau keteraturan. Nilai kegotongroyongan tercermin pada saat pembuatan tepung beras ketika ada tetangga yang punya khajat. Dengan suka rela para tetangga membantunya sembari ber-tutunggulan. Sedangkan, nilai ketertiban dan atau keteraturan tercermin dalam ber-tutunggulan itu sendiri. Dalam hal ini antarpemegang alu harus tahu persis kapan harus menumbuknya, sehingga tidak terjadi benturan antaralu.

Source Tutunggulan Kesenian Khas Sunda : Tutunggulan Tutunggulan (Kesenian Tradisional Masyarakat Cianjur, Jawa Barat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.