Tuladha Dari (Hom) Pimpah Dan Pingsut

0 32

Tuladha Dari (Hom) Pimpah Dan Pingsut

Pingsut memanfaatkan tiga jari tangan. Jempol mewakili gajah, telunjuk untuk manusia dan kelingking sebagai semut. Manusia kalah sama gajah dan semut kalah sama manusia rasanya dapat diterima logika dengan cepat. Ketika gajah dipecundangi semut, mulailah kita berpikir asal-muasalnya bagaimana?

Ada fabel yang menceriterakan semut dan gajah sebagai pemeran utama. Salah satu dongeng sebelum tidur dari eyang putri. Gajah takluk ketika semut masuk ke lobang telinganya. Blingsatan nabrak kemana-mana. Tangan gajah tidak bisa menjangkau telinganya. Demikian pula gajah tidak punya jari untuk mengorek lobang telinganya.

Ada teman yang berceritera kalau di Jepang juga ada semacam “pingsut”. Serupa tapi tak sama dengan yang di Indonesia, mereka menyebutnya “Jankenpon”. Mainnya menurut saya lebih rumit, mungkin karena budayanya beda.

“Jankenpon” menggunakan kepalan tangan mewakili “batu”, jari membentuk huruf V sebagai representasi “gunting” dan lima jari terentang melambangkan “kertas”. Kertas kalah sama gunting, tetapi menang sama batu (karena batu dapat dibungkus kertas). Selanjutnya gunting kalah sama batu (barangkali karena gunting tidak mampu memotong batu yang keras itu, atau gunting kalau digepuk dengan batu akan rusak.

“Gunting” adalah cendekiawan dan “batu” adalah orang kebanyakan maka ketemunya sama dengan yang dipakai anak-anak negeri kita. Jangan merasa sok pintar. Belum tentu yang tidak pintar itu tidak mempunyai kelebihan. Boleh juga untuk referensi. Cuma untuk mempraktekannya, karena tidak biasa, jadinya amat lama.

Source http://iwanmuljono.blogspot.com/ http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/11/tuladha-dari-hompimpah-dan-pingsut.html
Comments
Loading...