Tradisi Wuku Dan Mapag Taun Di Kampung Adat Cikondang, Bandung

0 37

Satu bentuk pelestarian tradisi leluhur yang paling menonjol di Kampung Cikondang adalah pelaksanaan upacara adat Wuku Taun. Upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas anugerah Yang Maha Kuasa karena telah memberikan hasil bumi yang menghidupi mereka sepanjang tahun. Selain bentuk syukur, Wuku Taun (menutup tahun) dan Mapag Taun (membuka tahun) juga dimaksudkan sebagai ritual menyambut tahun baru dengan doa semoga setahun ke depan diberikan keselamatan dan perlindungan.

Tradisi Wuku Taun selalu jatuh pada 15 Muharam. Namun sejak tanggal 1 Muharam, kesibukan warga telah tampak di sana-sini. mereka bergotong royong menumbuk padi yang kelak dijadikan bahan nasi tumpeng. Padi yang sebelumnya disimpan di lumbung tersebut merupakan hasil panen tahun lalu dari sawah keramat yang menjadi kekayaan adat.

Kaum wanita yang bertugas menumbuk padi terdiri atas lima atau enam orang dengan ketentuan, mereka tidak sedang haid. Pakaiannya khusus, dilengkapi karembong atau kain yang diselendangkan yang biasanya digunakan untuk menggendong bayi dan kepalanya ditutup kerudung. Kegiatan menyambut upacara Seren Taun-Mapag Taun dari hari ke hari makin meningkat. Selain menyiapkan beras untuk bahan pembuat nasi tumpeng, kaum wanita membuat opak dan makanan khas masyarakat Kampung Cikondang.

Kaum pria secara bergotong royong menyiapkan kayu bakar dan daun pisang yang harus diambil dari kaki Gunung Tilu. Kelak, daun-daun tersebut dijadikan bahan untuk berbagai macam wadah penganan dan lauk pauk yang digunakan pada puncak upacara yang diselenggarakan tanggal 15 Muharam.

Upacara dimulai dengan penyembelihan ayam untuk dimasukkan dalam tumpeng padi ladang dan padi sawah. Masyarakat di rumah masing-masing membuat tumpeng berisi ayam. Sebagian masyarakat lainnya dengan sukarela bekerja di rumah adat, mempersiapkan tumpeng, lauk-pauk, dan 12 kue tradisi antara lain ampengan ketan, opak putih dan merah, wajit, ketan, pisang, dan kelontong.

Masyarakat yang membuat tumpeng di rumah-rumah akan menyerahkan tumpengnya ke rumah adat dan pekerja di rumah adat akan membalasnya dengan tumpeng lain yang lebih lengkap. Upacara ditutup sore hari dengan doa bersama sebagai tanda syukur atas rezeki tahun lalu. Peserta upacara pun tak hanya masyarakat adat Cikondang saja, tapi juga warga dari luar kampung.

Menjelang tengah hari, puluhan nasi tumpeng yang berasal dari rumah-rumah penduduk dibawa ke rumah adat. Kelak, setelah anom membacakan ijab kabul yang menandai puncak acara tersebut, nasi tumpeng berikut lauk pauknya dibagikan kembali kepada masyarakat. Sekitar seratus meter arah selatan rumah adat terdapat tiga makam, yaitu makam anom atau uwa Idil, Mak Akung, dan Mak Ampuh. Tempat tersebut dipercaya pula sebagai tempat ngahyang atau menghilangnya leluhur mereka yang menjadi penduduk pertama dan sekaligus pendiri Kampung Cikondang.

Inti dari upacara ini adalah mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur Kampung Cikondang yang berperan bagi kesejahteraan dan keselamatan kampung mereka. Nasi tumpeng merupakan simbol dari rasa syukur tersebut. Dari pembuatan hingga pembagian tumpeng pengiring yang sebanyak 100 buah, merupakan gambaran rasa gotong royong dan kebersamaan warga masyarakat.

Source http://ekorisanto.blogspot.co.id http://ekorisanto.blogspot.co.id/2009/07/wuku-taun-sebagai-ritual-agung.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.