Tradisi Wiwitan di Purbalingga – Menemukan Persaudaraan dalam Perang Stroberi

0 46

Tradisi Wiwitan di Purbalingga – Menemukan Persaudaraan dalam Perang Stroberi

Di lereng Gunung Slamet, Purbalingga, Jawa Tengah, terdapat sebuah tradisi unik. Bernama cambok, tradisi ini digelar dalam rangka mengungkapkan rasa syukur terhadap Tuhan atas kesehatan dan keselamatan, serta hasil pertanian yang bagus. Dalam tradisi cambok yang digelar akhir pekan, ratusan orang berkumpul. Mereka ramai-ramai memilih buah stroberi dan tomat yang sudah disediakan.

Tomat dan stroberi ini nantinya digunakan untuk melempar satu sama lain. ‘Perang’ stroberi dan tomat dimulai ketika panitia memberikan aba-aba. Aksi saling lempar tomat dan stroberi pun terjadi. Meski demikian, tomat dan stroberi yang digunakan dalam tradisi ini bukan kualitas terbaik, melainkan buah yang sudah tidak layak jual.

Tradisi ini diadopsi dari tradisi adu cambuk di masa lalu. Namun, dalam perjalannya mengalami perubahan menjadi perang stroberi.  Meskipun dikemas dalam bentuk baku lempar, namun tak ada dendam setelahnya. Justru, semangat persaudaraan yang terbangun tradisi ini. 

Buah stroberi merupakan komoditi yang menjadi ikon Desa Serang. Pada musim panen, produksi per hari bisa tujuh sampai delapan ton. Mengantisipasi agar buah bisa diserap maksimal, maka digelarlah perang stroberi.

Menurut cerita sesepuh desa, dulu di Dukuh Kaliurip dan Dukuh Gunungmalang ada tradisi perang cambuk hanya sebatas untuk menunjukkan kedigdayaan. Namun demikian, antardukuh itu tidak pernah terjadi konflik alias hidup rukun.

Dari rapat warga dari tiga desa masing-masing Serang, Kutabawa dan Siwarak peserta FGS, disepakati cambuk itu diganti menggunakan stroberi dan tomat. Namun demikian, buah yang digunakan bukanlah buah yang masih layak konsumsi, tetapi buah yang sudah afkir atau tidak diterima di pasar.

Source http://mengenalbudayajawa.blogspot.co.id/ http://mengenalbudayajawa.blogspot.co.id/2015/06/Tradisi-wiwitan.html#more
Comments
Loading...