Tradisi Upacara Sebar Apem di Jatinom, Klaten

0 184

Tradisi Sebar Apem

Yaqowiyu adalah upacara tradisi yang diadakan di Jatinom, Klaten setiap bulan sapar.  Penduduk setempat juga menyebutnya Saparan. Ciri khas Yaqowiyu adalah penyebaran apem. Masyarakat memercayai bahwa apem tersebut membawa kesejahteraan bagi mereka yang berhasil mendapatkannya.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan dilakukan pada hari Jumat setelah sholat Jumat setiap bulan sapar di Masjid Baitul Muslim tempat makam Ki Ageng Gribig. Apem yang dibuat warga sekitar kemudian dikumpulkan diberi doa oleh para ulama, lalu apem-apem ini akan disebar dan bagi masyarakat yang mendapatkan apem ini dipercaya akan mendapat berkah rezeki, tanah sawah subur dll. Karena kepercayaan itu sehingga masyarakat berbondong-bondong datang untuk berebut apem yang akan disebarkan oleh para ulama, bahkan masyarakat dari luar kota yang mempercayai hal ini pun ikut datang untuk berebut apem di tradisi YaQowiyu ini. Para pengunjung yang datang rela berdesak-desakkan di area masjid dan menunggu dibawah menara sebaran apem untuk mendapatkan apem berkah. Jumlah apem yang disebar beratnya sekitar 4 Ton.

Even tahunan ini sebagai salah satu kebanggaan Kota Klaten sehingga pelaksanaannya akan dipersiapkan dengan matang dan penuh pengamanan, hal ini terbukti dengan adanya mobil Gegana yang siap siaga serta pesawat ringan tanpa awak yang digerakan untuk mendeteksi bom diantara para pengunjung yang hadir.

Hasil gambar untuk tradisi tahunan jatinom
tradisi rebutan apem

Tata Pelaksanaan Tradisi

Apem ini disusun menjadi gunungan yaitu  gunungan lanang dan gunungan wadon. Gunungan apem ini lalu akan diarak dari Kantor Kecamatan Jatinom menuju Masjid Ageng  Jatinom yang sebelumnya telah mampir terlebih dahulu ke Masjid Alit Jatinom. Arak-arakan ini diikuti oleh pejabat-pejabat kecamatan, kabupaten, Pemerintah Daerah Kabupaten, Bupati (atau yang mewakili), Disbudparpora (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga) dari Klaten. Arak-arakan jalan kaki ini juga dimeriahkan oleh marching band, reog, seni bela diri dan Mas Mbak Klaten yang terpilih.

Setelah kedua gunungan apem sampai di Masjid Ageng Jatinom maka gunungan apem tersebut dimalamkan di dalam Masjid untuk diberi doa-doa. Pada hari Jumat setelah sholat Jumat, apem tersebut disebar oleh Panitia bersama dengan ribuan apem sumbangan dari warga setempat.

Banyak orang berpendapat bahwa apem yang ada di gunungan dan telah dimalamkan di Masjid Ageng itulah apem yang paling “berkhasiat” atau manjur. Menurut banyak warga sebenarnya dari ribuan apem yang disebar apem yang telah dimalamkan di Masjid tersebut adalah apem yang benar-benar punya berkah. Tapi meskipun demikian tidak berarti ribuan apem lain yang disebar tidak membawa berkah, masyarakat percaya bahwa apem-apem yang disebar itu punya berkah. Menurut para sesepuh Jatinom, gunungan apem itu mulai diadakan sejak 1974, bersamaan dengan dipindahnya lokasi sebaran apem dari halaman Masjid Gedhe ke tempat sekarang. Sebelumnya, acara sebaran apem tidak menggunakan gunungan.

Penyusunan gunungan itu juga ada artinya, apem disusun menurun seperti sate 4-2-4-4-3 maksudnya jumlah rakaat dalam shalat Isa, Subuh, Zuhur, Asar, dan Magrib. Di antara susunan itu terdapat kacang panjang, tomat, dan wortel yang melambangkan masyarakat sekitarnya hidup dari pertanian. Di puncak gunungan terdapat mustaka (seperti mustaka masjid) yang di dalamnya berisi ratusan apem.

Ada perbedaan antara gunungan lanang dan wadon. Gunungan wadon lebih pendek dan berbentuk lebih bulat. Gunungan lanang lebih tinggi dan di bawahnya terdapat kepala macan putih dan ular. Kedua hewan itu adalah kelangenan Ki Ageng Gribig. Macan diibaratkan Kiai Kopek yakni macan putih kesayangan Ki Ageng Gribig, sedangkan ular adalah Nyai Kasur milik Ki Ageng Gribig.

Source budaya jawa Tradisi Apem

Leave A Reply

Your email address will not be published.