Tradisi Upacara Karo Suku Tengger

0 52

Tradisi Upacara Karo Suku Tengger

Suku Tengger memiliki kekayaan budaya yang cukup banyak, salah satunya adalah keanekaragaman upacara-upacara adatnya. Salah satunya adalah Upacara Karo. Upacara Karo adalah perayaan besar Desa, kata Karo berarti dua atau keduanya. Nama itu diambil karena kegiatan tersebut diselenggarakan pada bulan Karo (Bulan kedua dalam sistem kalender Suku Tengger. Upacara ini diselenggarakan karena wujud syukur atas berkah yang diberikan Tuhan sepanjang tahun. Upacara Karo di Probolinggo dengan Desa Ngadas sedikit berbeda tujuannya meskipun praktiknya sama. Di Probolinggo dilakukan untuk memperingati Sang Hyang Widhi Wasa yang menciptakan dua pasangan lelaki dan perempuan. Kedua makhluk itu berpotensi salah paham yang menyebabkan peperangan sehingga menimbulkan banyak korban. Sehingga keduanya berdamai sehingga peristiwa antara wong loro atau karo (dua makhluk), yaitu laki-laki dan perempuan tersebut akhirnya dilakukan tradisi Karo.

Sedangkan dalam tradisi Ngadas upacara ini adalah sebuah legenda abdi Kanjeng Nabi yang bernama Setya berselisih dengan abdi dari Aji Saka yang bernama Setuhu. Keduanya tidak ada yang menang dan sama-sama gugur sehingga upacara ini digelar sebagai peringatan agar menghindari musibah karena salah paham. Dalam kegiatan ini, berbagai ritual juga dilakukan seperti Doa Petren, Kauman, Tayuban, Tumpeng Gede, Sesanti, Sedekah Panggonan (Tamping), dan berakhir dengan ritual Sadranan serta Ojung. Tradisi ini dilakukan di empat wilayah Kabupaten yaitu Ngadisari (Probolinggo), Wonokitri (Pasuruan), Ngadas (Malang), dan Ranupane (Lumajang)

Saat melakukan upacara Karo ini, masyarakat Tengger biasanya akan memakai pakaian baru, dengan diawali upacara ritual di rumah Kepala Desa setempat. Warga yang membawa aneka makanan ditata sedemikian rupa, upacara ritual ini dipimpin oleh seorang dukun Desa. Makanan yang sudah mendapatkan do’a dan mantera itu kemudian diserahkan kepada Kepala Desa dan dibagikan kepada masyarakat sekitarnya. Sedangkan sebagian lagi digunakan sebagai sesembahan.

Acara berlanjut dengan nyadran atau ziarah kubur ke makam tokoh leluhur. Kalau di Ngadas ada tiga makam dalam satu cungkung yang dikunjungi yaitu Mbah Sedek yang meninggal pada 1824, Mbah Tirun meninggal pada 1831, serta Mbah Asmokerto yang meninggal pada 1970. Sebuah upacara singkat digelar untuk memanjatkan doa, sebelum kemudian menempatkan sesandingan untuk leluhur. Setelah dari makam leluhur Desa, masyarakat kemudian melakukan ziarah ke makam desa dengan membawa makanan untuk leluhurnya masing-masing. Tidak lupa mereka juga membawa alas sebagai tempat duduk. Begitu tiba, sesaat mereka memanjatkan doa, sebelum kemudian mengikuti puncak kegiatan.

Sementara dari rumah kepala desa, beriringan para perangkat dan pemimpin adat berjalan dengan aneka tetabuhan. Paling depan, berjalan dua ekor jalan kecak yang bergoyang mengikuti irama tetabuan. Seperti warga yang lain, para rombongan juga melengkapi diri dengan aneka makanan. Di rumah juga ada makanan dan minuman dengan jumlah berlimpah yang disediakan untuk para tamu yang berkunjung. Karo ini benar-benar mirip seperti lebaran di Islam karena ketika berkunjung juga ada saling berma’af-ma’afan. Perbedaannya dengan lebaran, perayaan Karo ini bisa dilangsung selama lebih dari seminggu. Perayaan yang penuh suka cita, dan pesta ini dirayakan oleh hampir seluruh orang Tengger tanpa terkecuali.

Source https://ngalam.co/ https://ngalam.co/2017/01/17/upacara-karo-suku-tengger/
Comments
Loading...