Tradisi Upacara Adat Tandur dan Methik di Blitar

0 235

Tradisi Upacara Adat Tandur dan Methik di Blitar

Setiap daerah memiliki bermacam-macam ritual kebiasaan atau upacara adat. Seperti halnya Kabupaten Blitar memilki upacara adat yang sudah banyak dikenal masyarakat, yaitu Upacara Pemandian Pusaka Gong Kyai Pradah. Selain itu, terdapat banyak upacara adat yang masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Kabupaten Blitar. Misalnya upacara adat tandur dan methik yang sering dilakukan setiap enam bulan sekali.

Tandur dan Methik merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang berarti“menanam” dan “memetik” atau dengan istilah lain dapat disebut “memanen”. Upacara adat atau ritual tandur merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum acara menanam padi dimulai. Sedangkan ritual methik dilakukan ketika tiba saatnya memanen padi. Rangkaian upacara adat ini diberlakukan untuk sawah bengkok (suatu bidang tanah yang dapat digunakan oleh perangkat desa dengan waktu kepemilikan hanya selama menjabat) milik kepala desa. Sebelum prosesi upacara adat tandur dimulai, sawah milik masyarakat yang berada di sekitar sawah bengkok milik kepala desa setempat belum boleh melakukan penanaman padi. Begitu juga degan upacara adat methik, apabila belum dilakukan ritual methik maka masyarakat belum boleh memulai pemanenan padi.

Di dalam upacara adat tandur dan methik terdapat ritual-ritual khusus yang harus dilakukan. Pada saat upacara adat tandur kegiatan yang dilakukan adalah kenduri di tempat yang disebut awong. Setelah kegiatan kenduri selesai dilakukan maka sawah siap untuk ditanami padi. Menurut informasi dari Bapak Arif yang merupakan Kepala Desa Genengan, di dalam upacara adat methik ada sedikit perbedaan yaitu sebelum dilakukannya kenduri maka terlebih dahulu dilakukan ritual temu manten atau ritual mempertemukan Dewi Sri dan Joko Sedono yang disimbolkan oleh padi betina dan padi jantan. Ritual temu manten tersebut dilakukan di tempat yang bernama Tarub Agung. Padi yang digunakan temu manten tersebut di bawa pulang ke rumah kepala desa untuk digunakan sebagain pertanda dimulainyapemanenan padi namun masih secara simbolis. Setelah kegiatan kenduri tersebut dilakukan maka panen raya siap dimulai.

Selain ritual diatas, ada jenis makanan yang digunakan sebagai syarat dalam kenduri atau slametan adat desa yang berarti syukuran adat desa. Makanan tersebut adalah ambengan yang berupa nasi dan ayam ingkung. Selain itu, juga ada jajanan khas Jawa yaitu jenang, wajik, dan jadah. Dalam memasak makanan untuk upacara adat tandur dan methik ada beberapa hal yang wajib diperhatikan, yaitu orang yang memasak harus suci dari hadast besar serta makanan yang telah selesai dimasak tidak diperkenankan untuk dicicipi. Bagi orang yang hendak menanam dan memanen padi juga harus dalam keadaan suci dari hadast besar.

Upacara adat tandur dan methik dilakukan sebagai ungkapan atau simbol rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas segala kenikmatan dan berkah yang telah diberikan. Selain itu, upacara adat ini digunakan sebagai tolak bala untuk menjauhkan dari berbagai macam bencana dan gangguan. Upacara adat tandur dan methik ini secara tidak langsung memiliki manfaat sebagai salah satu alat untuk menjaga kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Source Tradisi Upacara Adat Tandur dan Methik di Blitar Smanta’s Traveller
Comments
Loading...