Tradisi Unik Ngapem Bulan Safar Cirebon

0 62

Sebagian masyarakat Cirebon percaya pada bulan Safar ini berusaha untuk menghindari perjalanan jauh, pekerjaan berbahaya dan pernikahan. Dianjurkan  pada bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua, panti jompo, dan mempererat tali silahturahmi di antara sesama. Berkaitan dengan ini, masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan tiga  macam kegiatan yang dikenal dengan “ngapem, ngirab dan rebo wekasan.

“Ngapem” berasal dari kata apem, yaitu kue yang terbuat dari tepung beras yang dipermentasi. Apem dimakan disertai dengan pemanis (kinca) yang terbuat dari “gula jawa” (gula merah)  dan santan.  Umumnya masyarakat masih melakukan ini dengan membagi-bagikan  ke tetangga yang intinya adalah bersyukur (slametan) di bulan Safar. Yang maknanya terhindar dari malapetaka. Di Keraton Kacirebonan tradisi “Rebo Wekasan” dilakukan dengan membangun kue apem dalam bentuk gunungan, curak receh dan doa.

Filosofi Apem

Filosofi kue apem yang berbentuk seperti gegunung (gunung), menurut Permaisuri Kesultanan Kacirebonan Raden Ayu Muthoyyaroh Beda Sastrawijaya Natadiningrat, menandai perjalanan seorang manusia yang berawal dari bawah hingga puncak. Apem juga melambangkan diri kita, pada saat kita memakannya harus dicelupkan di dalam kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah.

Safar yang diyakini sebagian masyarakat sebagai bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa terjadi di antara kita.  Hal ini konon diyakini sebagai upaya Sunan Kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya rebo wekasan, beliau mandi di sungai derajat Kota Cirebon pada saat berguru pada Sunan Gunung Jati untuk membersihkan diri dari bala di hari Rebo tersebut.  Ini akhirnya diikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju Kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang diyakini dulu Sunan Kalijaga mandi.

Apem dimaknai juga sebagai “sedulur papat kelima pancer” sebagai daur hidup manusia yang menggambarkan kelahiran sang jabang. Dari mulai kelahiran sang jabang yang diawali dengan getih/rah (darah), air ketuban, ari-ari dan bocah itu sendiri dianggap sebagai sebuah proses yang diyakini masyarakat Jawa dan Cirebon.yang bakal dialami semua manusia. Mereka bersuci sebagai bagian dari tradisi untuk menyongsong bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad saw. Menurut kuncen komplek makam keramat Pasarean, Pangeran Hasan, tradisi yang lebih pada kebutuhan spiritual itu merupakan ritual yang perlu dilestarikan.  Pasalnya,  tidak semua daerah memiliki tradisi yang serupa.

Source Tradisi Ngapem & Tawurji dalam moment Safaran Ngapem, Tradisi Unik Khas Cirebon Tradisi ngapem bulan syafar masyarakat Cirebon
Comments
Loading...