budayajawa.id

Tradisi Unik di Desa Arenan Purbalingga

0 55

Tradisi Unik di Desa Arenan Purbalingga

warga Dukuh Gligir Sapi Desa Arenan, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, berkumpul di sebuah tanah lapang di pusat kampung. Mereka mengerumuni seekor sapi yang diikat pada pohon kelapa. Puluhan pria dewasa berbagi tugas menjatuhkan tubuh gempal hewan itu memakai bantuan tali.

Sapi ini kemudian dipotong sang jagal setelah didoakan pemuka agama. Prosesi ini bukan pemotongan hewan biasa. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai ritual tolak bala yang berlangsung sewindu sekali. Tidak heran jika setiap tahapan penyembelihan dilalui secara sakral. Meski telah berubah menjadi bangkai, sapi itu tetap diberi penghormatan. Sesepuh dukuh memandikannya pakai air bertabur kembang yang dicampur wewangian.

Bangkai sapi yang masih bersimbah darah lalu ditata di atas tandu berbahan bambu. Pemuka agama membalut tubuh sapi itu memakai kain kafan yang telah dihiasi kembang mawar dan kantil. Doa pun dipanjatkan untuk keselamatan warga agar terhindar dari bala atau bencana.

Bangkai sapi berselimut kafan selanjutnya diarak dengan cara dipikul. Rute kirab dari tempat penyembelihan ke komplek masjid dusun sekitar 1 kilometer. Di komplek masjid, daging dan tulang sapi dipisahkan. Tulangnya kemudian dikubur di ujung dusun sebagai syarat ritual.

Awal mula ritual berawal dari musibah yang terjadi secara beruntun di dukuh itu pada masa silam. Konon, wilayah yang sekarang termasuk Desa Arenan dahulu merupakan tempat penampungan bangkai-bangkai hewan yang jadi santapan binatang buas. Dalam perjalanannya, wilayah itu dihuni penduduk. Selanjutnya berkembang menjadi sebuah pemukiman yang sekarang dikenal sebagai Grumbul Gligir Sapi.

Aneh, berbagai kejadian tak wajar sering melanda wilayah itu sejak menjadi kampung. Warga sering meninggal mendadak dan beruntun, semisal bunuh diri atau jatuh dari pohon. Jelas saja fenomena itu membuat warga lain waswas. Mereka pun mengirim perwakilan ke rumah seorang pintar guna meminta petunjuk agar petaka bisa berhenti.

Ternyata keluar petunjuk agar warga mengadakan ritualpemotongan sapi setiap sewindu atau delapan tahun sekali.Prosesi penyembelihan pun dilaksanakan di tanah lapang yang dipercaya sebagai “pusar sapi”. Adapun “kepala sapi” terletak di bagian timur dusun, tempat mengubur kepala hewan ini setelah dipotong. Posisi “ekor sapi” di sisi barat dusun menjadi tempat mengubur ekornya.

Seiring masyarakat yang kian religius, kepala dan ekor sapisembelihan kini tak lagi dikubur. Warga menggantinya dengan mengubur tulang belulang. Daging sapi selanjutnya dibagi-bagikan ke warga untuk dimakan bersama setelah dimasak dan didoakan secara Islam. Doa itu berisi harapan kepada Allah agar penduduk senantiasa dihindarkan dari bala atau musibah. Daging hasil sembelihan dibagikan sehingga mereka bisa menikmati hidangan istimewa sebagai bentuk syukur.

Source http://jateng.tribunnews.com http://jateng.tribunnews.com/2017/10/05/ada-tradisi-unik-di-desa-arenan-purbalingga-sapi-sembelihan-diarak-sebagai-tolak-bala?page=4

Leave A Reply

Your email address will not be published.