Tradisi Tiban Berdarah di Desa Sekardangan Blitar

0 52

Tradisi Tiban Berdarah di Desa Sekardangan Blitar

Musim kemarau yang berkepanjangan, membuat warga di Kabupaten Blitar, menggelar tradisi cambuk tiban berdarah. Tradisi tiban digelar warga Desa Sekardangan Kecamatan Kanigoro saat musim kemarau berkepanjangan. Seluruh warga desa berkumpul dan menggelar tradisi tiban, sebagai ritual meminta hujan.


Tradisi tiban ini dilakukan dengan cara  dua pemain saling adu cambuk dari lidi yang dianyam. Tradisi tiban ini hanya diikuti kaum lelaki baik tua maupun muda. Agar tidak mejurus pada perkelahian dan mencambuk sembarangan, tradisi ini dipimpin oleh beberapa orang wasit.

Tradisi tiban dimainkan oleh dua orang yang saling berhadapan dan bertelanjang dada, dengan diiringi musik gamelan Jawa, serta di atur oleh palandang atau wasit pertandingan. Setiap pemain tiban, masing-masing hanya punya kesempatan mencambuk lawannya sebanyak 3 kali secara bergantian pada tubuh lawan. Serta tidak boleh mencabul kepala maupun kemaluan.

Meski banyak luka yang tergores ditubuh pemain akibat terkena cambuk, pemain tidak merasakan sakit. Justru mereka berkeyakinan, semakin banyak goresan luka dan darah mengucur, maka diyakini hujan akan semakin cepat turun. Selain itu, ikut tradisi tiban ini, juga untuk melestarikan tradisi nenek-moyang.

Menurut Edi Embing, peserta tiban, selain untuk melestarikan budaya seni warisan leluluhur, tradisi tiban sengaja diadakan untuk meminta hujan. Karena sudah sembilan bulan terakhir ini, sawah di Kecamatan Kanigoro mengering dan tidak dapat ditanami. Warga meyakini dengan diadakannya tradisi hujan akan segera turun.

Source Tradisi Tiban Berdarah di Desa Sekardangan Blitar Pojokpitu.com
Comments
Loading...