Tradisi Tawur Nasi Masyarakat Desa Palemsari, Rembang, Jawa Tengah

0 169

Tawuran nasi yang diadakan di Rembang, Jawa Tegah merupakan sebuah tradisi yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang berlimpah ruah. Oleh karena itu biasanya tradisi tawur nasi ini dilakukan ketika masa panen sudah selesai.

Setiap orang yang mengikuti tradisi tawur nasi ini tidak akan ada yang merasa dendam atau marah, dan justru mereka akan melakukannya dengan senang hati dan bersemangat. Tradisi ini juga dipercaya bisa menghilangkan kesusahan yang bisa menimpa desa yang mereka tinggali.

Biasanya tradisi tersebut akan dilakukan di tempat yang disebut dengan Punden Sumber, desa palemsari, kecamatan sumber, rembang, jawa tengah yang dikelilingi oleh areal persawahan yang kering. Para laki – laki akan berkumpul di bawah pohon jati yang besar yang tumbuh di tanah punden itu. Kemudian satu per satu gadis desa akan keluar dari rumah mereka dengan membawa sebakul yang berisi nasi, dumbeg, sebungus ketan dan tape.

Dumbeg, ketan dan tape yang tadi dibawa oleh para gadis nantinya dikumpulkan oleh para pemuda ke dalam karung. Sedangkan nasi yang tadi dibawa menggunakan bakul akan ditumpahkan di deklit. Sebelum prosesi tawur nasi ini dimulai, maka mereka akan berdoa terlebih dahulu kemudian menyerbu nasi yang tadi berada di atas deklit. Setelah mereka mendapatkan nasi, maka selanjutnya para pemuda akan langung melemparkan nasi – nasi tersebut ke tubuh teman mereka yang lainnya.

Biasaya dalam aksi tawur nasi ini baru akan selesai jika nasi yang ada di atas deklit sudah habis terambil semua. Keseruan yang tercipta pada saat prosesi tawur nasi ini akan terpancar dengan adaya sorak – sorak dari para penonton yang semakin menambah keriuhan dari acara tawur nasi ini yang juga dianggap sebagai sedekah bumi setelah panen. Setiap nasi yang berceceran di tanah juga sudah dianggap sebagai berkah untuk para warga. Nasi itu nantinya akan dipakai untuk makanan ternak milik warga. Para warga mempercayai jika ternah yang diberi makan dengan nasi dari tawur nasi itu akan bisa terhidar dari berbagai macam penyakit.

Sebagian nasi yang sebelumnya sudah disisihkan dan tidak digunakan untuk tawur akan dihidangkan dengan beberapa macam lauk yang disajikan untuk makan bersama dengan petinggi desa dan menampilkan permainan ketoprak sebagai simbol rasa syukur dan persembahan untuk para leluhur.

Comments
Loading...