Tradisi Tahun Baru Hijriah atau Malam Satu Suro Bagi Masyarakat Jawa

0 36

Tradisi Tahun Baru Hijriah atau Malam Satu Suro Bagi Masyarakat Jawa

Tahun Baru Hijriah. Bagi umat Islam ini adalah hari yang penting karena menandai peristiwa dalam sejarah Islam yaitu memperingati penghijrahan Nabi Muhammad saw dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharram tahun baru bagi kalender Hijriyah. Tahun Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah itu diambil sebagai awal perhitungan bagi kalender Hijriyah. Muslim dianjurkan untuk membaca doa akhir dan awal tahun baru Islam.

Tapi perlu diingat datangnya 1 Muharram juga kerap diidentikkan dengan tradisi dan ritual malam satu suro. Tradisi suronan ini sering dijumpai di budaya masyarakat Jawa. Sebenarnya tradisini ini bermula dari masuknya Islam di pulau Jawa yang disebarkan oleh para wali.

Islam tidak bisa masuk dan diterima begitu saja oleh masyarakat Jawa zaman dahulu karena mereka masih memiliki keyakinan animisme dan dinamisme yang begitu kental. Makanya ditetapkanlah Satu Suro yang juga bertepatan dengan 1 Muharram.

Momen Satu Suro ini dimaksudkan untuk intropeksi diri. Meskipun dilakukan dengan bermacam cara tapi tujuannya adalah sama, yaitu semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Namun beberapa orang beranggapan tradisi dan berbagai ritual yang dilakukan dalam malam satu suro dianggap musyrik atau syirik.

Tradisi yang kerap dibilang musyrik saat malam Satu Suro

Tapa Bisu

Tapa Bisu adalah ritual mengunci mulut dengan tidak mengeluarkan kata-kata apapun. Ritual ini dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh.

Selain itu sebagai bentuk kesiapan diri utnuk menghadapi tahun yang baru. Tradisi Tapa Bisu kerap dijumpai dilakukan di kota Jogja dan Solo. Para abdi dalem keraton dan sejumlah masyarakat melakukan tapa bisu dengan berjalan mengelilingi benteng kraton.

Kungkum

Kungkum adalah ritual berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu. Ritual ini biasanya dilakukan saat malam satu suro. Masyarakat Jawa masih ada yang melakukannya. Makanya tak heran jika malam satu suro lokasi pemandian, sendang atau mata air kerap ramai didatangi pengunjung.

Ruwatan

Tradisi Ruwatan dipergunakan orang Jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya dan kesalahannya. Orang Jawa yakin dengan melakukan ruwatan kesialan dalam hidupnya akan hilang.

Kirab Kebo Bule

Kirab Kebo Bule adalah tradisi yang dilakukan Keraton Kasunanan Surakarta. Setiap tahunnya ketika satu suro sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat, yaitu Kebo Bule Kyai Slamet diarak ke jalan. Kerbau ini termasuk pusaka penting milik keraton Solo yang merupakan hewan kesayangan Paku Buwono II.

Kirab itu sendiri berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung “kemauan” dari kebo Kyai Slamet. Saat kirab itu, orang-orang berjalan mengikuti kirab, saling berebut dan berusaha menyentuh tubuh kerbau. Orang-orang juga berusaha mengambil kotoran kerbau. Bagi mereka berebut kotoran tersebut itu sebagai tradisi ngalap berkah atau mencari berkah.

Ngumbah Keris

Ngumbah Keris adalah tradisi membersihkan keris pusaka bagi orang yang memilikinya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ritual ini menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya waktu tertentu, misalnya malam satu suro.

Lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk)

Lek–lekan adalah tradisi yang biasanya dilakukan oleh warga di kampung. Biasanya ada yang sekadar berkumpul dan tidak tidur semalam suntuk di pos ronda atau hanya mengobrol di depan rumah atau makan-makan di gang.

Tirakatan

Ritual Tirakatan maknanya adalah berusaha mencari jalan agar dekat dengan Sang Pencipta. Selain malam satu suro, tirakatan juga biasanya dilakukan pada acara Agustusan. Banyak cara mendekatkan diri pada Tuhan, tapi beberapa kebudayaan melakukannya dengan cara yang berbeda-beda.

Source http://pekanbaru.tribunnews.com/ http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/09/10/7-tradisi-tahun-baru-hijriah-atau-malam-satu-suro-bagi-masyarakat-jawa-ini-sejarahnya
Comments
Loading...