Tradisi Suran Kirab Mbah Demang Di Banyuraden Sleman

0 19

Tradisi Suran Kirab Mbah Demang Di Banyuraden Sleman

Ki Demang Cokrodikromo yang bernama asli ”Asrah” adalah seorang anak Bekel yang nakal. Karena kenakalannya, beliau diikutkan pada Ki Demang Dawangan untuk belajar laku prihatin. Hal tersebut dilakukannya hingga dewasa sampai menjadi orang yang sakti.

Karena kesaktiannya, beliau dipercaya memberantas kejahatan dan akhirnya diangkat menjadi seorang Demang pabrik gula Demak Ijo. Saat menjadi Demang pabrik gula, beliau dikenal dengan nama Demang Cokrodikromo.

Tradisi Suran Kirab Mbah Demang merupakan salah satu tradisi memperingati bulan Suro dalam penanggalan Jawa di desa Banyuraden, Gamping, Sleman. Tradisi Kirab Mbah Demang diselenggarakan setiap bulan `Sura` (kalender Jawa) pada tanggal 7 atau tepatnya saat tengah malam tanggal 8 `Sura.

Tradisi ini diselenggarakan untuk memperingati perjuangan Ki Demang Cokrodikromo yang berasal dari daerah tersebut. Acara ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi salah satu agenda rutin budaya di kabupaten Sleman. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur dan silaturahmi warga desa sekaligus melestarikan budaya leluhur yang diwariskan secara turun temurun.

Lokasi penyelenggaraan Tradisi Suran Kirab Mbah Demang berada di halaman balai desa Banyuraden. Sejak sore hari telah dilakukan banyak persiapan mulai dari persiapan tandu naga raksasa yang akan dibawa dalam kirab oleh beberapa orang hingga barisan pasukan berpakaian adat Jawa.

Tidak ketinggalan pula beberapa peserta tambahan seperti kesenian lokal dari kecamatan Gamping darn sekitarnya. Sepertinya mereka tidak ingin ketinggalan memeriahkan acara kirab ini. Tepat jam 20.00 Tradisi Suran Kirab Mbah Demang dimulai dari balai desa Banyuraden, Gamping.

Pasukan berkuda menjadi barisan pertama kirab diikuti dengan barisan orang yang membawa tandu berupa naga raksasa, kesenian lokal, dan pasukan berpakaian adat Jawa. Satu per satu mereka berjalan keluar dari halaman balai desa melewati jalanan yang disamping kanan kiri masih berupa persawahan. Beberapa petugas mengamankan jalannya kirab agar lancar dan terkendali.

Barisan prajurit yang ikut dalam prosesi ini adalah Bergada Widya Pramana, Bergada Widya Buana, Bergodo Bremoro Geni, Bergodo Wirosuto, dan Bergodo Biru. Semua barisan prajurit tersebut merupakan pasukan dari Ki Demang Cokrodikromo yang tersebar di daerah kekuasaannya. Kelompok kesenian lokal yang ikut memeriahkan jalannya kirab diantaranya kesenian jatilan dan kesenian musik tek-tek.

Di sepanjang rute jalan yang dilalui oleh Kirab Mbak Demang dipenuhi oleh penonton yang berasal dari warga sekitar hingga luar daerah. Mereka sejak sore telah berbondong-bondong memadati sepanjang wilayah yang akan dilalui kirab. Sepertinya tradisi lokal bernama Kirab Mbah Demang ini telah mampu menyedot ribuan penonton untuk hadir dalam prosesi budaya ini.

Kirab Mbah Demang ini berhenti di Sanggar Widya Permana untuk memulai prosesi adat. Salah satu rangkaian prosesi adat yang mampu menarik minat penonton adalah prosesi udig-udig yang menyebarkan mata uang koin ke arah penonton.

Selanjutnya kirab masih dilanjutkan hingga berakhir Pendopo Kademangan yang berada di Jalan Godean Sleman. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, acara Tradisi Suran Kirab Mbah Demang ini sukses menarik ribuan penonton untuk hadir dalam perhelatan tersebut.

Hiburan lain yang digelar di kawasan desa Banyuraden untuk menyemarakkan Tradisi Suran Kirab Mbah Demang adalah panggung hiburan berupa pertunjukan wayang kulit dan pasar malam. Pasar malam yang mirip dengan pasar malam sekaten tersebut digelar di lapangan sebelah balai desa Banyuraden. Meskipun terkesan biasa, pasar malam yang digelar cukup menarik perhatian beberapa pengunjung yang hadir menonton Kirab Mbah Demang.

Source https://teamtouring.net/ https://teamtouring.net/tradisi-suran-kirab-mbah-demang-di-banyuraden-sleman.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.