Tradisi Sungkeman, Kolaborasi Antara Jawa dan Islam

0 8

Tradisi Sungkeman, Kolaborasi Antara Jawa dan Islam

Hari raya Idul Fitri di Indonesia memiliki nilai tambah yang tak ada dalam budaya Islam. Selain halalbihalal adalah tradisi sungkeman. Hal ini melengkapi etalase kecerdasan manusia Jawa yang sangat adaptif terhadap budaya yang masuk.

Budayawan dan novelis Umar Khayam (almarhum) pernah menyebutkan bahwa tradisi Lebaran merupakan langkah kuda akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa mudik (kembali ke udik/kembali ke kampung halaman) juga merupakan etalase kecerdasan budaya Indonesia. Umar Khayam menyebutkan bahwa istilah Lebaran tak bisa lepas dari peran para priyayi yang sangat gemar bermain simbol. Istilah Lebaran juga tak dikenal dalam budaya Islam.

Banyak nilai yang bisa diambil manfaatnya dari tradisi khas ini. Biasanya sungkem dilakukan selepas salat Id. Selain itu juga dilakukan ketika seseorang meminta restu kepada orang yang lebih tua dan dihormati. Menurut budayawan Semarang, Djawahir Muhammad, secara teknis sungkem bisa digambarkan sebagai duduk bersimpuh atau berjongkok sambil mencium tangan orang yang lebih tua.

Tradisi sungkeman pertama kali didokumentasikan dan dilembagakan pada masa pemerintahan KGPAA Sri Mangkunegara I. Saat itu beliau bersama prajuritnya berkumpul bersama dan saling bermaafan saat merayakan Idul Fitri.

Meskipun mulai dilembagakan, situasi politik dan keamanan saat itu, menyebabkan Mangkunegara tak leluasa menggelar tradisi sungkeman. Kolonial Belanda mencurigai tradisi sungkeman sebagai pertemuan terselubung untuk melawan mereka.

Pada 1930, saat prosesi sungkeman di Gedung Habipraya, Belanda nyaris menangkap Insinyur Sukarno dan dokter Radjiman Widyodiningrat yang waktu itu menjabat sebagai dokter pribadi Sri Paku Bowono (PB) X, raja Keraton Surakarta. Dalam kajian Djawahir Muhammad, sungkeman membawa dampak baik bagi kualitas hidup seseorang. Setidaknya mulai menyadari bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa hadirnya orangtua dalam kehidupannya.

Source https://www.liputan6.com/ https://www.liputan6.com/regional/read/3002500/sungkeman-adonan-sedap-jawa-dan-islam?source=search
Comments
Loading...