Tradisi Sewu Kupat Kudus

0 323

Tradisi Sewu Kupat Kudus

Sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa, masyarakat Kudus dikenal menjadi tempat bermukim dua wali terkemuka, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. Tak heran jika Kudus memiliki beragam tradisi untuk menghormati para Wali. Salah satunya adalah parade “Sewu Kupat” (seribu ketupat), yang merupakan perayaan untuk menghormati sosok Sunan Muria dan diadakan setiap tanggal 8 Syawal.

Tradisi Parade Sewu Kupat Kangjeng Sunan Muria, sejatinya bermula pada 2008 silam. Ketika itu, Bupati Kudus Musthofa Wardoyo yang baru saja terpilih, melihat kekayaan sejarah peninggalan Sunan Muria belum terkelola dengan baik. Ia kemudian berinisiatif menggandeng masyarakat sekitar makan Sunan Muria di desa Colo, Kudus, mengadakan perayaan tahunan “Sewu Kupat”.

Angka sewu (seribu) memiliki makna simbolis atas banyaknya peran masyarakat dan kolaborasi pemerintah dalam mengangkat kearifan lokal dan sejarah religi di Kudus. Prosesi parade Sewu Kupat diawali dengan ziarah ke makam Sunan Muria, dilanjutkan dengan minum air dan cuci kaki serta tangan dengan air dari gentong peninggalan Sunan Muria. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan visualisasi dari perjalanan kirab Kanjeng Sunan Muria dengan mengarak 18 gunungan yang terbuat dari ketupat dan hasil panen 18 desa di Kecamatan Dawe (wikayah Gunung Muria) dari makam Sunan Muria menuju Taman Ria Colo. Prosesi semakin meriah saat ribuan warga berebut ketupat dan hasil bumi dari 18 gunungan yang diarak.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita/d-3545788/mengenal-makna-di-balik-tradisi-sewu-kupat-di-kudus
Comments
Loading...